(Palestina 1) Hidup dari Batu dan Minyak Zaitun

Israel tidak melarang orang Palestina untuk ekspor. Hanya saja, ini seperti membolehkan orang Indonesia pergi ke Malaysia tapi harus lewat Alaska di Amerika Utara.

Alis Odeh terangkat, nada suaranya meninggi, ”Bayangkan?! Ini absurd.” -Fuji

Fuji Pratiwi

Palestina baru benar-benar saya kenal–mungkin tepatnya dikenalkan–saat saya di bangku SMA. Saat itu senior di sekolah menceritakan bagaimana penindasan terhadap Palestina tak pernah berujung. Singkatnya, saya jadi tahu apa itu intifadhah.

Kisah pembangkangan Bani Israil sebenarnya saya temui dalam teks kitab suci. Jarang baca berita membuat saya banyak tak tahu perkembangan konflik di timur-laut Mesir itu.

Selepas itu, yang saya tahu soal Palestina cuma berita pilu. Perundingan damai semu, serangan berulang Israel ke Gaza, pendirian tembok pembatas yang membagi Palestina, dan seterusnya. Soal darah dan air mata.

Bertemu Osamah bin Odeh di Thailand Halal Assemby akhir Desember 2015 lalu membuat saya melihat sisi lain Palestina. Bagaimana Palestina ‘hidup’, bagaimana ‘dapur’ Palestina mengepul.

Odeh adalah pengusaha minyak zaitun. Tanah yang dulu disebut Syam itu terbilang surplus untuk komoditas satu ini. Bagi saya, mencicipi minyak zaitun murni adalah kehormatan karena itu barang lumayan mahal.

Berbeda dengan minyak impor dari Italia yang berwarna…

View original post 589 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s