A Year In Review: Reading 2015 (Jan-Feb-Mar)

A Year In Review

To read without reflecting is like eating without digesting. – Edmund Burke, Irish Statesmen

Ternyata saya punya satu kebiasaan buruk yang baru saya sadari ketika saya melihat banyaknya tumpukan buku di meja dan rak. Buku-buku tersebut adalah buku-buk yang saya baru baca sedikit saja beberapa halaman (untuk tidak dikatakan sebagai tidak dibaca samasekali). Ternyata ini adalah salah satu kebiasaan unik (untuk tidak dikatakan buruk) bagi para pembaca buku. Baru beberapa hari yang lalu saya baca dari sebuah blog bahwa hal ini disebut tsundoku, penimbun buku.

The word dates back to the very beginning of modern Japan, the Meiji era (1868-1912) and has its origins in a pun. Tsundoku, which literally means reading pile, is written in Japanese as 積ん読. Tsunde oku means to let something pile up and is written 積んでおく. Some wag around the turn of the century swapped out that oku(おく) in tsunde oku for doku (読) – meaning to read. Then since tsunde doku is hard to say, the word got mushed together to form tsundoku. (http://www.openculture.com/2014/07/tsundoku-should-enter-the-english-language.html)

Meskipun saya mentolerir diri bahwa buku-buku bukan berarti tidak saya baca samasekali. Saya hanya membaca paralel saja dari satu buku ke yang lainnya (multi-tasking). Jadi banyak buku yang belum benar-benar saya selesaikan. Meskipun begitu saya tetap mengulas buku-buku yang saya beli dan baca (baik yang belum tuntas ataupun belum).

Januari

22735741

Buku yang saya beli Desember tahun lalu ini, mulai saya baca awal tahun ini. Statusnya currently reading, masih dibaca. Sedikit pendapat saya di buku ini adalah banyak kisah-kisah yang ditampilkan begitu apik oleh Ust. Salim. Gaya bahasa dan diksinya begitu khas selalu menjadi daya tarik untuk membaca dari satu halaman ke halaman lainnya.

Februari

Bulan kedua tahun 2015 saya membeli kedua buku ini. Satu buku non fiksi dan satu buku fiksi. Kedua-duanya merupakan penulis yang saya kagumi. Rhenald Kasali dan Paulo Coelho. Buku karya Om Rhenald ini bukan pertama kali yang saya baca, sebelumnya saya sudah membaca bukunya yang berjudul Let’s Change dan Self Driving. Sedangkan buku Eyang Paulo yang ini adalah buku ke-sembilan yang saya baca (dan juga miliki bukunya).

Maret

Bulan ini sepertinya bulan terbanyak saya membeli buku. Kelima buku terakhir itu saya beli karena ada promo membeli 4 buku berlogo GM, gratis 1 buku berlogo GM. Alhasil dengan penuh nafsu saya membeli buku-buku tersebut. Dua diantaranya (Blink dan Outlier) sebetulnya sudah saya baca pada tahun 2012.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s