12 Things I learned In 2015

568776979

Penghujung tahun sudah di depan mata. Artinya apa? Artinya persiapkan kalender dinding barumu 🙂

Tentu saja setahun bukanlah waktu yang pendek tapi juga tidak panjang-panjang amat. Pada akhirnya kita kembalikan lagi sifat waktu menurut Einstein: relatif 😀

Lalu apakah kemudian waktu menjadi komoditas yang tidak penting? Tentu saja jawabannya juga menjadi relatif. Sebab di negeri ini waktu bagi mayoritas rakyatnya belum terlalu  penting dalam beberapa kondisi. Semisal janji ketemu, pemanfaatannya dalam waktu luang, dan penggunaannya agar efektif dan efisien 😀

Dalam setahun, tentu saja sudah bermacam hal kita hadapi. Kadang kita menang, kadang juga kita harus kalah. Dan tentu saja kita boleh kalah atau gagal, tapi jangan sampai kita kehilangan pembelajarannya 🙂

Setidaknya ada beberapa hal yang — tidak harus — penting, tapi bahkan unik untuk kita jadikan pembelajaran sepanjang tahun 2015 ini. Karena katanya hidup ini jangan terlalu dibawa serius-serius amat, tapi juga jangan terlalu digampangkan. Menjadi yang pertengahannya saja, hehehe 🙂

Judul postingan bukan karena apa-apa pakai bahasa Inggris, cuma biar kelihatan keren saja 😀 Dan juga nantinya mungkin akan saya update jadi judul di depannya bisa jadi 13, 14, dst 🙂

  1. Merantaulah. Setidaknya ini yang saya lakukan di awal tahun ini. Diantara rutinitas tahun lalu yang membuat saya merasa jenuh, saya berencana untuk belajar dan sekolah lagi. Maka pergilah saya ke kampung Inggris, Pare, Jawa Timur.
  2. Temui orang-orang baru. Sebagai orang yang jarang keluar rumah (karena saya freelancer) hal ini agak berat di awal bagi saya, tapi setelah dilakukan hal ini menjadi sesuatu yang menyenangkan dan seru 🙂 Alih-alih saya lakukan di dunia nyata, nyatanya saya justru sering melakukan ini di dunia maya Facebook dan WordPress
  3. Ikut kegiatan kerelawanan. Satu hal yang perlu saya garis bawahi dari kegiatan kerelawanan adalah kita harus profesional. Jangan pernah menjadikan kegiatan ini karena bersifat sukarela, terus dikerjakan kapan suka 😦
  4. Berkomitmen. Ketahuilah, sikap ini yang menjadi pembeda kita dengan orang lain. Segala hal dipertaruhkan dengan seberapa besar komitmen kita untuk memperjuangan impian, cita-cita, kepercayaan dan berbagai unsur penting yang komitmen menjadi landasannya.
  5. Menjadi pembelajar sepanjang hayat – lifelong learner. Di era sekarang ini, jika tidak mau tertinggal dalam hal apapun, agama pun dunia. Membaca, mengikuti course (MOOC), melanjutkan/mengulang sekolah, berdiskusi adalah sebuah keniscayaan! (Komitmen perlu sekali untuk diterapkan pada hal yang satu ini).
  6. Ciptakan kesempatan baru (termasuk di dalamnya kemampuan). Jangan pernah tergantung dengan apa kita miliki sekarang. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan hilang di kemudian hari, mau tidak mau kita sudah harus punya rencana B, C bahkan sampai Z kalau perlu.
  7. Piknik, Lari, dan Mencatat/Blogging. Seperti merantau, piknik yang durasinya lebih singkat 2-7 hari perlu kita lakukan agar ada jeda dalam rutinitas dan ini justru terbukti meningkatkan produktivitas kita nantinya. Dengan lari saya sering mendapat banyak inspirasi dan sumber tulisan untuk nge-blog. Jadi indikasi kalau saya jarang nge-blog bisa jadi karena saya kurang lari, hehe. Untuk mencatat atau blogging yang pada intinya adalah menulis seperti analogi sesuatu yang masuk itu harus keluar dari tubuh jadi kalau tidak dikeluarkan malah jadi penyakit atau malah endapan yang menjadi lemak dalam tubuh heuheu.
  8. Penuh perencanaan. Percayalah perencanaan tidak akan pernah sia-sia sekalipun itu tidak terealisisasi sepenuhnya atau tidak sesuai harapan. Perencanaan adalah ikhtiar awal yang dimana kita juga sudah berpikir baik buruknya atau lebih kurangnya. Sekalipun belum berhasil, dengan merencanakan kita berlatih berpikir secara sistematis dan menyeluruh.
  9. Berusaha Ikhlas. Tentunya setelah segala upaya kita kerahkan (doa, rencana, dan aksi). Menyerahkan segala hasilnya kepada Allah – apapun hasilnya – adalah sikap yang harus kita ambil, bukan? 🙂
  10. Harapan itu selalu ada. Ketika seakan langit menghimpit, bumi begitu sempit, dan segala sesuatu menjadikan kita terjepit. Percayalah bahwa kemudahan itu menghimpit semua semua kesulitan itu. Jika kita percaya
  11. Jangan Marah. Mungkin di penghujung tahun ini, tema ini lagi yang harus saya hadapi. Menghadapi orang-orang yang sebegitu enaknya saja menyuruh tanpa dipikir dulu. Orang-orang yang membaca enggan, tapi paling banyak berwacana dan lagi-lagi menyuruh.
  12. Jangan pernah menonton film yang ada judulnya “Summer”. Baik itu (500) Days of Summer atau Summer in February. Hahaha.

Baiklah, sampai disini dulu tulisan malam hari ini. Semoga tahun depan kita bisa menjadi lebih baik dari diri kita di tahun ini. Mampu melihat segala sesuatunya lebih optimis, tidak bersumbu pendek (reaktif atas sebuah kejadian) dan juga lebih bermanfaat bagi orang lain. Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s