Apakah aku punya Ayah? (Refleksi Hari Ayah, bagi mereka yang kecewa pada Ayah)

cerita tentang ayah yang tak pernah sama

Journey of Sinta Yudisia

Aku tak pernah merasa punya ayah.
Mungkin, karena kebersamaan dengannya terasa singkat, hanya sekitar 6 tahun dalam jangka waktu panjang hidupku. Sejak kecil hidup bersama nenek, dan baru ikut ayah ibu pindah ke Bali ketika masa akhir TK serta SD. SMP kembali hidup bersama nenek hingga kemudian tiba-tiba ayah sakit : kaki bengkak, nafas terengah, berjalan dengan tongkat dan…buta. Mama berkata, bapak terkena diabetes parah. Penyakit yang merampas kehidupan pakde-pakde, abang bapak. Aku memanggil ayah dengan sebutan bapak dan ibu dengan sebutan mamah, hal yang tidak lazim. Disamping diabetes, bapak menderita penyakit yang bagi sebagian orang seperti di luar akal sehat. Meski bagi sebagian besar orang apa yang kualami dianggap takhayul dan akan merontokkan iman, namun begitulah faktanya : ular yang tiba-tiba masuk rumah, kalajengking bergerombol-gerombol di sudut rumah, sesajen bunga yang seringkali dilempar orang ke halaman rumah.

Ayah.
Tak banyak kuingat kenangan tentangnya. Ada masa-masa aku digendong ketika kecil…

View original post 878 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s