The Road Not Taken [1-2/4]

two-roads-diverged1

Kau tahu, aku menyukai sebuah puisi yang berjudul The Road Not Taken yang dikarang oleh Robert Frost. Usia puisi ini yang hampir mencapai 100 tahun masih tetap saja menarik perhatian orang banyak, termasuk aku. Kau tahu tentang apa puisi ini bercerita? Akan kubacakan satu bait pertamanya padamu.

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Indah bukan? Frost menggambarkan pilihan-pilihan yang terus menerus dihadapkan pada orang-orang melalui sebuh percabangan yang begitu indah: Dua jalan bercabang di hutan yang menguning. Tentu saja membayangkan hutan itu sendiri seperti sebuah tanda tanya dari ketidaktahuan yang begitu besar, yang bisa saja kita tersesat pada kedalamannya. Kemudian dia menambahkan hutan yang menguning, menggambarkan hutan yang sedang memasuki fase lain dari siklus tahunannya yang bukan gugur, semi atau bersalju, tapi menguning dan tentu saja itu menambah mendramatisirnya visualisasi imaji kita.
Tapi yang ingin kuceritakan padamu, aku menghadapi lagi percabangan yang lain, percabangan yang tentunya ujungnya merupakan masa depan yang penuh dengan tanda tanya. Percabangan kali ini begitu berbeda, seakan seiring berjalannya waktu, percabangan selalu menunjukan tingkat kesukaran yang membuat setiap kita harus berpikir keras. Percabangan dari sebuah yang orang-orang sebut karir sebuah jalur ikhtiar pengunduhan rezeki.
Hari ini saja, aku merasa digempur  jawaban-jawaban sebuah doa yang seenaknya saja kuucap kemarin. Tentu kau memperhatikan jamaknya kata jawaban yang kutulis bukan? bukan sebuah sebuah jawaban, tapi banyak jawaban. Bukan tiba-tiba tentu saja, ini bagian dari rencana Allah, hanya saja pada waktu yang hampir bersamaan ini, semua tawaran-tawaran karir itu begitu tampak seperti percabangan besar. Menerka-nerka bukannya tidak bisa, hanya saja kali ini tampak begitu sulit dan penuh kondisi yang menjepit. Apakah harus kuperjuangkan impian-impianku dan kesukaanku pada suatu hal?
Tentunya aku jadi tidak tahu harus bagaiman menjelaskan bait keduanya padamu. Tersebab aku masih ditengah titik awal percabangan itu.
Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
Lalu kupilih jalan yang lain, sama rupa dan wujudnya, Mungkin malah tampak lebih baik, Karena jalan itu berumput dan ingin dipijak; Meski lalu-lalang di tempat itu Telah sama-sama mengubah keduanya. Keadaan bukan tidak akan lebih buruk karena keduanya memaksaku kembali kepada garis awal. Garis yang bagi kebanyakan orang sebagai hal yang melelahkan, bagimana tidak? Memulai kembali adalah hal yang terberat dari sebuah perjalanan. Tapi yang harus kusyukuri dari bagian kebimbangan ini adalah setidaknya percabangan lainnya sudah ditempuh dari masing-masing kita. Entah bagaimana takdir akan membawanya. Kita hanya harus meyakini pena telah diangkat dan tinta telah mengering.
Jika pada sebuah kesempatan aku meminta pendapatmu, maukah setidaknya kau memberikan sepatah dua patah kata padaku? Sebab itu teramat sangat membantuku. Semoga kau berkenan.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s