In All Cases: Alhamdulillah

12002599_783886888400054_6840295926891012921_o

Ranah prasangka adalah area yang tak pernah ada ujungnya. Imajinasi kita bisa lebih liar daripada apa yang mungkin sebenarnya bisa terjadi, ekspektasi-ekspektasi yang kadang terlalu tinggi, kekhawatiran-kekhawatiran yang ujungnya tak pernah terjadi.

Sudah sifat alami manusia seperti itu, tapi tentu saja kita selalu punya pilihan untuk bersikap seperti apa dan bagaimana. Terbawa terus pada prasangka-prasangka negatif sudah pasti akan menguras tenaga dan pada akhirnya menimbulkan ketakutan berlebih, berkebalikan dengan prasangka-prasangka positif yang justru membuat kita lebih tenang, rileks dan bahkan mungkin bahagia.

Sesungguhnya Allah selalu berdialog dengan kita, Dia selalu dekat dengan diri kita, lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Hanya saja kedekatan tidak bisa berfungsi jika tidak pernah berfrekwensi sama. Untuk itu yang menjadi pertanyaan penting untuk setiap kita adalah, apakah kita sudah menyamakan frekwensi dengan Yang Maha Dekat?

Allah Sign

Jika saja kita sudah menyesuaikan diri dengan frekwensi Allah. Saya yakin, petunjuk Allah akan terasa begitu jelas, Allah akan mendekatkan orang-orang, tulisan-tulisan hingga kejadian-kejadian yang akan mengarahkan diri kita kepada rencana terbaiknya. Jikapun itu terkadang itu tampak masih seperti suara radio kresek-kresek, bukankah kita pilihan untuk memperbaiki antenanya atau memutar frekwensi agar pas?

Tapi bukan kita manusia jika tidak punya 1000 alasan. Kita lebih mudah mengeles ketimbang melaksanakan perintah yang sudah jelas apa maksud baiknya. Kita lebih mudah mencari alternatif dulu ketimbang menggunakan pilihan-pilihan utama yang dihadapkan diri. Kemudian berulang-ulang kali akhirnya kita ditanya: Tidakkah kamu berpikir?

How it works?

Tentang apa, bagaimana, kenapa bahkan kapan sebetulnya semua sudah jelas tertuang dalam kitab yang terjaga kemurniannya Al-Quran. Bahkan bentuk representatif sudah di-role model-kan oleh sang pembawa risalah, Rasulullah. Tapi lagi-lagi kita selalu punya 999 alasan (setelah satu alasan tadi kita pakai), untuk selalu mengakses kedua hikmah warisan terbaik ini. Apakah memang kita tidak berpikir?

Saya sendiri, jujur, pernah berprasangkat tidak baik kepada Allah. Kenapa ini harus terjadi kepada saya, bukan dia? Kenapa ujiannya harus seperti ini, bukan itu? Sebetulnya hanya waktu yang akhirnya menjawab pertanyaan-pertanyaan kita tersebut. Kemudian sabarlah akhirnya yang menjadi kendaraan kita pada lintasan dimana waktu akan menjawab. Lalu, akankah kita benar-benar harus ditanya berkali-kali oleh Allah: Apakah kamu tidak berpikir?

Pada setiap peristiwa, Allah telah menetapkan ketetapan terbaikNya. Kita hanya perlu memenuhi kausalitas terbaik yang mampu kita usahakan. Hasil adalah urusan prerogatifNya. Just say Alhamdulillah in all cases.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s