Merayakan Terjajah

537251933

Sore ini saya duduk menghadap sekelompok orang yang tengah duduk-duduk, paling ujung para orang tua – Ayah dan Ibu tengah sibuk dalam obrolan sorenya, pada bangku-bangku sebelumnya tampak anak-anak mereka berkumpul juga dengan kesibukan gadget-nya, ada yang didampingi dengan pengasuhnya yang tampak masih muda.

Saya sendiri tengah menikmati sejuknya minuman dingin yang sudah saya beli. Bersama teman-teman di sekeliling saya, kami duduk mengikuti pola bangku yang tersedia di kafe itu di sore yang sama, letter L. Tak lama berselang, para Ibu berdiri, sepertinya hendak pergi bersama ke suatu tempat dan saya perhatikan mereka bersemangat sekali. Tampak seorang ibu berdiri kemudian menghampiri anaknya yang tengah ‘sibuk’ dengan gadgetnya, mengusap-usap kepalanya seraya berpamitan sebentar, Berbincang ala kadar ke pengasuhnya. Kemudian bersama rombongn ibu yang lain bersigap pergi dari pandangan mata. Entah kenapa saya berpikir, berbicara dalam hati, “Apakah ibu-ibu ini tengah menanti kemerdekaan mereka?”

Sepeninggal para Ibu, tak kalah menarik para Ayah yang sejak tadi asyik mengobrol, tetap sama tak berubah: asyik mengobrol. Kemudian saya berpikir lagi, “Apakah bapak-bapak ini selalu merdeka?’

Ada satu lagi pemandangan yang perlu kita perhatikan. Anak-anak tadi, yang masing-masing memegang gadget andalannya masing-masing. Begitu serius dengan interaksi-koneksi-sentuhannya melalui aplikasi-aplikasi yang terpasang. Mereka tidak terlalu peduli tampaknya, bahwa ibu-ibu mereka tidak mengawasi atau memperhatikan. Bahwa ayah-ayah mereka tengah sibuk dengan tema-tema obrolannya. Sebab pengasuh-pengasuh mereka selalu dekat dengan jarak yant tak pernah jauh dari jarak pandang mereka sepanjang hari, sepanjang minggu 24/7. Lalu saya berpikir,  “Apakah mba-mba ini bekerja untuk kemerdekaannya?”

Kemudian saya kembali kepada diri saya. Bersama teman-teman saya yang juga tengah asyik dengan ponsel pintar kami untuk sekedar check-in lokasi, mengunggah gambar secara sukarela sebagai iklan gratis, dan upaya-upaya lain untuk membaca beranda yang hampir tak pernah ada jeda. Seraya menikmati minuman dingin berisa mangga dengan mekanisme promo melalui iklan sebuah aplikasi ponsel pintar tentunya. Duduk di salah satu cabang dari jaringan besar waralaba kafe kopi yang tersebar di seluruh dunia, sambil saya memperhatikan orang-orang merdeka yang saya sangsikan kemerdekaannya, dengan saya sendiri yang jumawa merasa seperti sudah merdeka. Lalu, saya terhenyak. Dan ingin melupakan semua yang saya pikirkan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s