Biaya Peluang (Opportunity Cost)

opportunity_costs

Masih jelas teringat dulu ketika masih kelas X (sepuluh). Pertama kali tahu istilah opportunity cost ini ketika pelajaran ekonomi. Salah satu pelajaran yang saya sukai plus menghasilkan nilai yang memuaskan di rapor. Saya termasuk siswa yang suka sekali pelajaran-pelajaran ekonomi dan sosial. Tapi tidak sedikit juga pelajaran di bidang ilmu alam yang juga menarik bagi saya. Maka, ketika kenaikan kelas, adalah salah satu momen paling galau dari sejarah hidup yang pernah saya lalui. Antara masuk jurusan IPA atau jurusan IPS. Dengan nilai di kedua konsentrasi ilmu yang sama-sama baik. Saya memilih IPA.

Pertimbangannya juga banyak, tapi bisikan-bisikan memang lebih kuat. Omongan-omongan yang berseliweran dari satu mulut ke mulut yang lainnya akhirnya sampai juga di telinga saya. Yang katanya kalau masuk ke jurusan ini akan beginilah, yang katanya kalau masuk ke jurusan itu akan begitulah. Semuanya menyumbang pendapat, bersuara, berspekulasi, bahkan yang dengan tanpa dasar sekalipun!

Pelajaran ekonomi waktu itu berbicara dengan biaya peluang atau biaya kesempatan. Dimana jika kita memiliki uang sejumlah sekian rupiah, kita punya alternatif untuk menggunakannya sesuai kemauan kita. Misal, alternatif pertama kita gunakan untuk berlibur ke luar negeri, lalu alternatif kedua kita gunakan untuk membeli gadget terbaru nan lengkap. Jika memilih yang pertama untuk berlibur ke luar negeri, makan kita tidak akan dapat memiliki gadget lengkap tersebut. Pun akan terjadi sebaliknya pada pilihan alternatif kedua.

43089_lrg

Ah, sayangnya dulu saya sendiri belum membaca buku om Covey yang berjudul The 3rd Alternative. Mungkin saja, banyak hal yang berbeda. Setidaknya tidak perlu terlalu galau akan setiap keputusan yang sambil ambil — yang memang wajar juga untuk seseorang yang baru berusia belasan tahun. Pendidikan yang dulu saya tahu adalah jika kita memilih A maka yang B pasti terpisah. Padahal kita diharapkan untuk bisa mengkaitkan keduanya, meleburkannya, menyandingkannya lalu mengutak-atiknya. Tapi, memang sayanya saja yang bandel. Ketika yang lain sibuk dengan tugas dan membaca terkait dengan konsentrasi penjurusan di sekolah atau kuliah. Saya malah asyik dengan buku-buku non eksak itu. Sampai sekarang saya bersyukur bahwa biaya peluang tidak selalu harus kita mengkorbankan salah satu dari pilihan itu. Tetapi kita bisa mencari alternatif ketiga sebagai sebuah solusi.

3rd-alt-thinking

Advertisements

3 responses to “Biaya Peluang (Opportunity Cost)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s