Belajar Heran

Dengan berat aku bercerita

Pada masa yang teramat lampau:

Dua jalan bercabang di hutan, dan aku…

Aku memilih jalan yang jarang dilalui orang,

Dan pilihanku sudah membuat perbedaan besar.

IMG_8312 (Copy)

Bait terakhir puisi Robert Frost ini sekali lagi hadir sebagai sisipan di blog ini. Disertai juga dengan kehidupan yang sekali lagi harus melalui persimpangannya. Rencana dapat dibuat sebaik mungkin, tapi kenyataan harus selalu siap diterima apa adanya. Tinggal bagaimana diri bersiap dalam semua suasana.

Banyak yang terjebak dalam pikiran-pikiran penuh prasangkanya. Sampai kenyataan hadir begitu saja, sekonyong-konyong. Manusia adalah makhluk perencana. Allah lah penentu hasil nyata. Banyak yang terjebak dalam rutinitas, yang ditambah lagi dengan topeng-topeng yang harus dipakai berganti-ganti dengan keinginan lawan bicara. Tapi, tak sedikit pula yang justru terjebak dalam waktu luangnya yang tak kian jelas target-target pencapaiannya. Lalu ada dimana kita kini?

Teman lama bisa langsung begitu saja diganti dengan teman baru. Karena seperti itulah fitrah manusia, selalu ingin tahu dan tertarik pada sesuatu yang jelas baru. Tak sedikit banyaknya kebaikan hanya menjadi sebuah kebiasaan, yang bisa tertutupi oleh satu buah kekecewaan. Namun, kabar tak anehnya, sesekali kita menjadi objek, sesekali kita menjadi pelaku. Lalu apa yang mau kau perbuat selain meminta dan memberi maaf?

Manusia melakukan akselerasi pada pencapaian-pencapaiannya karena apa? karena mereka sangat begitu tahu waktunya begitu cepat, kalau tak bisa dibilang sekejap. Dengan upayanya untuk segera sampai, ceritanya dia ingin memperpanjang waktu bersenang-senangnya. Atau setidaknya menikmati fasilitas terbaik di sisa-sisa penghujungnya. Lalu apa yang sebetulnya benar-benar dicari oleh manusia itu?

Tulisan ini hadir sebagai eksistensi atas keheranan dari seorang penulis. Dengan tangan yang digerakan oleh otaknya. Dengan otak yang bekerja sesuai keinginannya. Dengan inginnya yang bersemayam pada hatinya. Kemudian hatinya mendapat bersitan untuk segera menuliskannya sebagai partisipasi dari secuil sumbangan peradaban, yang entah apakah akan memberikan efek pada perjalanan peradaban ini. Entahlah, mungkin yang dia yakini sekarang adalah perjalanan 1000 mil dimulai dengan langkah pertamanya, langkah kecilnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s