A Look Back

rearview-mirror-sunset-672x345

Postingan kali ini terinspirasi oleh video di Youtube dari channel MarvelEntertainment berjudul Marvel’s Phase 1 & 2 – A Look Back. Video ini pertama kali diunggah pada 1 Agustus 2014 silam dengan hampir 4 juta penonton. Apa yang menarik dari video berdurasi durasi 5:36?

Untuk yang mengikuti film-film Marvel, pastinya tahu dengan tokoh-tokoh berikut; Captain America, Ironman, Hulk, dan Thor. Semua tokoh tersebut ditambah Black Widow dan Hawkeye akhirnya bersinggungan di sebuah film The Avengers. Nah, video ini mengkisahkan potongan-potongan singkat masa lalu mereka. Fase awal dari semua tokoh ini yang tidak sekonyong-konyong saja mereka jadi jagoan, punya kekuatan super atau keahlian hebat nan terasah lalu dengan mulusnya mengalahkan musuhnya. Semuanya memiliki sejarah masa lalunya. Masing-masing.

Hehe, tapi saya sendiri tidak mau membahas satu persatu masa lalu tokoh-tokoh jagoan Marvel ini. Postingan ini hanya ingin mengangkat tema utama yaitu sesuai judul yang saya adaptasi: A Look Back, Melihat Kembali. Hari ini, dua jam lalu saya membaca sebuah buku baru yang baru saya beli kemarin berjudul Tasawuf Modern: Bahagia itu, Dekat dengan Kita, Ada di dalam Diri Kita. Sebuah buku karya Buka Hamka seorang cendikiawan muslim berwawasan luas.

Dalam bukunya ini Seorang Hamka mencoba menegakan kembali maksud semula dari tasawuf, yaitu membersihkan jiwa, mendidik, dan mempertinggi derajat budi; menekankan segala kelobaan dan kerakusan memerangai syahwat yang lebih dari keperluan untuk kesejahteraan diri. Dengan seorang yang terpisah waktu puluhan tahun lalu, melalui buku ini saya dapat melihat kembali ke belakang seorang ulama besar dengan segala usahanya untuk meluruskan kembali ‘barang’ kebahagiaan yang dicari-cari orang-orang saat ini.

Kita pernah sampai pada satu titik dari fase-fase kehidupan yang kita lalui. Pada titik-titik itu terkadang kita bingung ketika ujian hadir dalam bentuk-bentuk yang tidak kita sangka-sangka. Kadang dalam bentuk waktu luang, kadang dalam bentuk kesehatan. Dan pada kedua nikmat itulah kita mulai salah menafsirkan tujuan hidup kita. Kita mulai mencari-cari bentuk kebahagiaan yang sesuai dengan kita ingini saja. Bukan menurut sunnatullah, bukan kepada hakikat.

Buku ini belum selesai saya baca, meski begitu baru membaca lembar-lembar awalnya saja saya seperti tahu apa yang menjadi inti dari pesan yang disampaikan. Ah, saya tidak sabar ingin menuntaskannya dari berbagi melalui ulasan singkat di blog ini. Semoga berkenan 🙂

Gambar diunduh dari sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s