The Road Not Taken [1/4]

two-roads-diverged1

Two roads diverged in a yellow wood,

Bagian terbaik dari apa yang saya kerjakan sekarang adalah, hobby yang dibayar. Tiga tahun silam, segalanya berbeda. Di penghujung kuliah dengan hanya diisi kesibukan skripsi, waktu begitu senggang, kegalauan mengisi ruang-ruang kosongnya. Masa-masa menerka masa depan yang selalu konstan tidak pasti, masa-masa mempertaruhkan mimpi atau karir? Dan seperti yang sudah-sudah, sebuah kesulitan atau kebingungan hanyalah himpitan dua kemudahan yang telah dipersiapkan Allah.

And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood

Hanya saja pada setiap momen-momen ‘menghimpit’ tersebut, kesungguhan seperti apa yang mampu kita persembahkan kepada Allah. Kesungguhan dari memperbaiki niat, kesungguhan memperbaiki amal, kemudian meliputi kesemuanya itu dengan kerelaan atas hasil apapun yang diganjarkan Allah kepada kita.

And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;

Transportasi bukanlah bidang yang cukup diprimadonakan diperkuliahan teknik sipil. Struktur selalu mendapat tempat di kedudukan yang tinggi, untuk mampu dilihat orang, untuk terus menjadi kebanggaan bagi siapapun yang menaklukannya. Mungkin pengecualian untuk saya. Dan hal ini juga yang membuat arah cerita ke depannya begitu berbeda.

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth; 

[Diambil dari Bait Pertama Puisi Robert Frost: The Road Not Taken]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s