Sedikit Dari Yang Sedikit

10409021_777619288961885_3441170798116520873_n

Menjadi bagian dari yang sedikit saja sudah sulit bagi sebagian kita. Ditambah lagi, menjadi sedikit dari yang sedikit. Sudah bisa dibayangkan kesulitannya seperti apa?

Saya sedang membaca buku Rhenald Kasali saat ini. Salah satu buku teranyarnya yang berjudul Self Driving Menjadi Driver Atau Passenger. Sampai saat menulis di blog ini, saya sudah sampai di pertengahan buku. Ide-ide yang disampaikan begitu enak untuk terus dibaca dan dibaca. Gaya penulisannya yang bercerita (story telling) rasanya menjadi kunci utama buku beliau bisa dipahami dengan mudah, karena begitulah karakter otak untuk menerima bacaan yang bergaya penceritaan. Dia menyukainya!

Banyak hal di setiap paragraf yang hampir selalu saja saya temukan menjadi koneksi atau penghubung antara buku-buku yang pernah saya baca sebelumnya. Sebelumnya saya seperti hanya memiliki bagian kain-kain yang terpisah satu sama lain, tapi kain-kain itu seperti dihubungkan menjadi sebuah bentuk pakaian yang jelas. Di buku Self Driving ini saya diajak untuk menjahit potongan-potongan tersebut.

Meski belum sepenuhnya buku ini saya rampungkan, tapi secara garis besar saya sudah menangkap arah ajakan dari Prof. Rhenald Kasali, mengubah mental seorang penumpang (passenger) yang hanya menumpang, tidak harus tahu arah jalan, tidak perlu merawat kendaraan menjadi seorang pengemudi (driver) yang harus mampu mengemban tanggung jawa mengemudikan kendaraan menuju titik tertentu, harus tahu jalan, tidak boleh tidur, mampu merawat kendaraan.

Pada dunia nyata, populasi driver hanyalah 2% dari total populasi yang ada. Jika ada sebuah institusi, organisasi, atau perusahaan yang berkinerja baik, pada nyatanya hanya 2% driver yang benar-benar menggerakan ini semua. Pun juga dari populasi dosen, mahasiswa, dan sebagainya. Lalu ini semua ini memang sudah secara natural, populasinya sudah terdistribusi seperti ini, apa lagi yang mau kita usahakan?

Bukan. Bukan seperti itu. Tugas setiap kita adalah mengusahakan. Kita tidak pernah benar-benar terlahir sebagai sang pemenang atau si kalah. Kita terlahir sebagai pemilih. Setelah kita tercerahkan untuk memilih. Kita punya hutang juga kepada orang lain untuk membuka setiap kesempatan atas hal sama yang kita dapatkan. Lagipula, bukankah pertumbuhan populasi manusia bertumbuh mengikuti deret ukur? Jadi apakah kita masih bisa bersantai dengan kinerja dan produktivitas yang hanya mengikuti deret hitung?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s