Metro dan Berjalan Kaki di Singapura: Bagaimana Air Asia Mewujudkannya

10301053_10202916249925174_5784682434910648151_n

[estimasi baca: 6 menit]

The greatest education in the world is, watching the masters at work.” Ungkapan ini pernah diungkapkan oleh seorang penyanyi kelas dunia, Michael Jackson.

Saya percaya dengan ungkapan tersebut, apalagi dengan status saya sebagai lulusan teknik sipil serta bergelut di bidang pekerjaan transportasi. Sepertinya sudah menjadi keharusan bahwa saya  harus tahu bagaimana sebuah sistem tranportasi yang berjalan bagus itu seperti apa.

Dan Air Asia mewujudkan hal tersebut dengan menerbangkan saya ke salah satu negara dengan sistem transportasi terbaik di dunia, khususnya di bidang metro, yaitu Singapura

Belajar Langsung di Tempat Terbaiknya

Berada di Singapura juga memberikan atmosfer mobilisasi yang sungguh berbeda. Ini membuka sudut pandang saya bahwa sistem bertranportasi tidak melulu harus dengan jumlah ruas jalan yang banyak, mobil keren dengan teknologi terbaik, atau seperti yang tampak pada gambaran transportasi di Indonesia.

IMG_6000

Suasana di dalam metro (Singapore MRT)

Padahal, justru dengan penerapan kebijakan dari pembatasan kendaraan pribadi melalui pajak dan retribusi parkir yang tinggi, serta mengkonversikan melalui pengembangan Sarana Angkutan Umum Massal (SAUM)-lah yang menjadikan sistem transportasi di sebuah negara berjalan baik sebagaimana mestinya.

Perjalanan ini sedikit banyak merubah cara pandang saya. Berefek sepenuhnya pada perubahan pola pikir yang turut berubah ketika mengerjakan studi-studi terkait transportasi yang saya kerjakan. Jika saja bisa lebih banyak para pemuda, mahasiswa, tenaga ahli, hingga pembuat kebijakan bisa belajar langsung ke negara-negara yang mengunggulkan pengembangan SAUM-nya. Saya yakin, dengan cepat negeri tercinta kita ini mampu menerapkan hal yang serupa.

Dan semuanya berawal dari Air Asia, yang memberi kemudahan terbang dengan memberikan harga terjangkau (bahkan) hingga sangat murah.

Awal Mula

Perjalanan singkat selama 3 hari 2 malam ini membayar telak kepada saya sejumlah ilmu yang begitu berharga. Dengan Singapura sebagai pecah telurnya perjalanan ‘go international‘ saya, dari seseorang yang hanya biasa ‘main kandang’ di Nusantara. Dan  tentu rasa was-was dan bingung menghinggapi benak dalam masa-masa penantian hari H keberangkatan.

IMG_5957 (Copy)

Bermalam di Bandara Changi Singapura

Apa yang harus dipersiapkan, bagaimana nanti disana (makannya, solatnya, tidurnya), semua hal itu terlintas di pikiran saya untuk diatasi. Maka saya segerakan eksekusi dengan membuat berbagai daftar yang harus diperlukan, kemudian  disiapkan dalam bentuk rincian perjalanan (itinerary).

Untungnya dalam satu rombongan saya pergi, sudah ada yang pernah kesana sebelumnya, sehingga sebagian besar rasa was-was tersebut bisa saya bebankan sebagian kepadanya. Meski begitu, tetap saja saya berusaha mandiri menyusun secara detil rencana perjalanan dari turunnya kami di bandara Changi hingga kembali lagi ke Indonesia.

Berjalan Kaki dan Naik Turun Metro

Dikarenakan waktu tiba di Changi diperkirakan malam, maka kami juga merencanakan untuk menginap di bandara Changi. Jangan ditanya kenyamanan menginap di bandara ini, saya hanya bisa bilang sungguh begitu nyaman. Semuanya ada, lengkap, bersih dan gratis penggunaannya.

Menjelang pagi, kami langsung naik metro (dikenal dengan nama Singapore MRT) dengan tujuan pertama adalah patung Merlion, ya rasanya tidak pernah lengkap ke Singapura tanpa mampir ke patung  setengah singa setengah ikan ini, kan?

IMG_6155 (Copy)

Saya berfoto di depan Merlion (Ikon Utama Singapura)

Kami turun di Stasiun Bayfront, tepatnya di bawah bangunan Hotel Marina Bay Sands, dari sini kami melintasi Art Science Museum dan menyeberangi Double Helix Bridge sambil melihat Singapore Flyer yang menjulang tinggi sepanjang mata memandang.

Duh, berjalan 2 km, rupanya bukan kebiasaan kami di Jakarta. Lelah yang sangat, menambah terasa panas yang begitu menyengat.

Setelah berpuas diri dengan berfoto-foto di ikon utama Singapura ini, kami bersiap diri melanjutkan perjalanan menuju Bugis, tempat kami akan menginap malam ini. Bagaimana kesananya? Sudah pasti dengan berjalan kaki dan naik metro tentunya. Sepertinya kaki sudah kebas dengan lelahnya jarak yang harus kami tempuh menuju stasiun terdekat, yakni Raffles Place

IMG_6050 (Copy)

Rute destinasi perjalanan dari Marina Bay Sands, Art Science Museum, Double Helix Bridge hingga ke Merlion

Kami dibuat terkejut juga berjalan kaki di sepanjang rute perjalanan, tidak ada asap, tidak ada kemacetan, mendapat prioritas duluan ketika menyeberang (di tempat yang seharusnya, tentunya). Kejutan lainnya adalah ketepatan waktu datangnya metro di setiap stasiun, kenyamanan di dalamnya, serta antrian tiket dan keluar masuk metro yang sungguh begitu luar biasa tertibnya!

IMG_6159

Kondisi lalu lintas di jalanan Singapura

Sisa malam di hari kedua kami habiskan penuh di Sentosa Island, pulau reklamasi buatan yang ‘disulap’ dengan apik menjadi pusat hiburan di negara yang luasnya sedikit lebih kecil dari luas total Jakarta ini. Menyaksikan Song of the Sea yang penuh efek dramatis semporatan air, api dan laser yang menari-menari di pinggir pantai, harmoni yang begitu indah. Dan esoknya kami masih kembali untuk menuntaskan seluruh wahana di Universal Studios Singapore yang penuh dengan teknologi teranyar.

Integrasi dan Konektivitas

Cukup naik turun stasiun dengan metro saja kita seperti sudah mengelilingi dunia, berkunjung ke “India” dengan turun di kawasan Little India, kemudian beli oleh-oleh di “Tiongkok” dengan berhenti di Chinatown.

Bagian terbaik dari berpindah (bermobilisasi) di Singapura adalah semuanya terintegrasi dengan sungguh apik. Semua tempat terkoneksikan dengan luar biasa melalui metro yang menghubungkan setiap pusat perbelanjaan, pusat perkantoran, pusat pariwisata hingga ke pusat permukiman masyarakatnya. Sekembalinya kami menuju bandara pun begitu mudah dan cepat, hanya naik metro dan kami langsung turun dengan jarak terdekat ke daerah check-in pesawat.

Air Asia mewujudkan perjalanan dan edukasi transportasi ini secara nyata. Semuanya menjadi bagian hal nyata yang mengubah hidup saya.

Semua perjalanan selalu memiliki awal, kamu  bisa memulainya petualangan pertamamu dengan Air Asia dan menjadikan blog Naked-Traveler.com dan juga blog efenerr.com pun blog ini untuk menambah referensi keseruanmu di perjalananmu nanti! 🙂

Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog 10 Tahun Air Asia Indonesia

10462746_10152215475186699_5594241781196307018_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s