PARALEL: Safar di Kota Lotus

Chapter Satu

Di Kota Lotus semuanya berjalan begitu menggugah. Keharmonisan teknologi dan alam berpadu tak terpisah. Synergi generasi tua dan mudanya kompak tak terbantah. Kolaborasi seluruh elemen dan pelakunya sungguh menghapus lelah. Siang dan malamnya silih berganti dari waktu ke waktu tak pernah sekalipun menyurutkan penduduk kota Lotus untuk berpacu dalam karya. Dan tak pernah sekalipun terlihat penduduk kota ini berada dalam kesedihan atau kegelisahan yang berlarut-larut. Karena bagi mereka, pagi adalah penanda bahwa kesempatan baru telah menjelma lagi sebagai sebuah hari. Hari yang baru.

Adalah Safar, pemuda Lotus, berpostur sedang rata-rata pemuda di kotanya, dan dia mendadak terbangun dari mimpinya. Safar mencoba menghimpun kembali apa yang tengah berserakan dimimpinya tadi, semakin dia coba ingat, semakin nihil pula apa yang diusahakannya itu. Tak ingin menghabiskan waktu paginya, segera  Safar menyambar handphone yang baru saja mengeluarkan dering alarm. Kesekian kalinya lagi Safar bangun lebih dulu dari alarm yang telah dipasangnya. Menandakan juga mimpi-mimpi yang tak kunjung segera dapat diingat. Seandainya dia tahu bahwa mimpi-mimpinya tersebut adalah pertanda.

Keluar dari kamar mandi, Laptop yang dia nyalakan telah membuka seluruh aplikasi yang dia gunakan hampir setiap hari. Browser dengan seluruh laman yang telah bermulti-tasking. Program-program yang juga telah diotomatisasi untuk ber-pop-up ketika tombol power dinyalakan. Dan kini dia telah siap memantau dan mengeksekusi seluruh agenda yang telah disusunnya semalam suntuk. Belum sempurna dia meluruskan tulang punggungnya di kursi, tiba-tiba saja potongan-potongan adegan muncul dalam benaknya. Kota Lotus seperti dalam kepekatan yang gelap, genangan air yang begitu keruh menggenangi seluruh jalan-jalan yang selalu dilihatnya dari atas monorail, tapi yang begitu mengherankan adalah dia tidak melihat siapapun dalam penampakan huru-hara tersebut. Hanya suara dan juga sekelebatan cahaya sorot dimana-mana.

Safar mendapati dirinya serta merta terbangun dalam posisi terduduk di atas kasurnya. Mendadak dia berpikir keras dibalut gelisah, mencoba memisahkan, yang mana kenyataan dan yang mana mimpi. Pagi itu di kota Lotus, Hidup Safar tak pernah sama lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s