Read a lot. Write a lot.

29007_539731449382371_1465246817_n

Mencapai tingkat ‘read a lot’ sendiri saja sudah menjadi sebuah prestasi. Tinggal ditambahi sedikit memaui konsistensi ‘write a lot’, maka lengkaplah sudah pemenuhan kebutuhan dasar kita di era literasi ini. Menulis masih tetap menjadi aktivitas yang lebih berat ketimbang membaca. Karena di dalam menulislah sebetulnya kita memahami apa yang sesungguhnya telah kita baca. Malah, tidak hanya membaca saja, tapi bagaimana menyusun, menceritakan kembali serta mempadukan keseluruhan pengalaman pencapaian diri. Sulit? tentu, tapi disitulah tantangannya 😀

Seperti halnya membaca, menulis adalah perkara membangun kebiasaan. Kebiasaan yang merupakan akumulasi repetisi, tanpa henti, penuh arti. Mungkin menulis bagi saya seperti berlari saja. Untuk biasa berlari 5 km bukanlah pembiasaan semalam-dua malam. Butuh, sekian bulan bagi saya untuk mampu berlari tanpa harus lelah yang berarti. Tahap-tahap awal, saya hanya sanggup lari 1-2 kilometer dengan napas tersengal-sengal dengan mengeluh enggan membiasakan aktivitas berlari ini.

Menulis dalam hal ini blogging bagi saya merupakan duplikasi kesulitan berlari saja. Sulit, berat, mengesalkan, membingungkan dan melelahkan. Apa yang harus saya tulis, bagaimana kata-kata ini harus tersusun, serta berbagai hal-hal tidak mengenakan tahap pemula pada umumnya. Tapi seperti berlari juga saya mencoba mengatasi hal tersebut, saya paksakan saja terus berlari, minimal berjalan cepat, tanpa henti! Kemudian seperti automatisasi saja, semuanya mengalir seperti tanpa harus bersusah payah. Bahkan seperti lupa saja, bagaimana harus memulainya, baik berlari maupun menulis.

Sungguh kurang tepat kalau di awal-awal membangun kebiasaan menulis adalah dengan menulis apa yang samasekali kita tidak tahu! Ini seperti sama saja kita mendadak lari marathon langsung jarak puluhan kilometer. Menulis pada awalnya adalah segala hal yang kita ketahui dengan sangat. Sehingga ketika tangan harus menulis atau jari-jari mengetik, mereka seperti menari-nari saja di atas kertas atau papan ketik, sebab tanpa penyelidikan yang lebih luas atau dalam kita telah memiliki bahan-bahan baku di dalam pikiran yang senantiasa mudah diakses. Tinggal bagaimana kita mampu mengeluarkan bahan-bahan baku tersebut dalam olahan komposisi dan proporsi yang pas.

Kemudian pada lompatan selanjutnya adalah tingkat-tingkat kesulitan yang menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana kita mampu memilih input bacaan baik, memilahnya sedemikian hingga, kemudian menyusunnya dengan berbagai pendekatan yang bervariasi tekniknya. Akhirnya kesemuanya akan saling membutuhkan satu sama lain antara keduanya. Menulis untuk membaca dan membaca untuk menulis. Semoga istiqomah.

 

Advertisements

One response to “Read a lot. Write a lot.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s