Kontemplasi

tumblr_mispfxY7LV1s6zeo3o1_500

Sejenak menepi dari riuhnya keramaian mampu menyediakan sarana bagimu untuk diam. Entah diam dalam kebermanfaatan berpikir. Entah diam dalam kelelahan yang menggelayutimu sepanjang hari. Entah diam dalam kehilangan makna ibadah bekerjamu. Entah diam karena engkau tidak harus melakukan apa, atau bahkan berpikir apa.

Apakah kau tidak tahu? Sudah banyak orang sekedar di luar sana: Sekedar bekerja, Sekedar bicara, Sekedar mengingatkan, Sekedar menyelesaikan. Sampai lupa bahwa penciptaannya sendiri tidak pernah dilakukan hanya berlandas sekedar. Apalagi main-main tanpa memiliki tujuan penciptaan.

Ah, masa bodoh dengan filosofi dan esensi. Masa bodoh dengan niat dan tujuan. Itukan yang sekarang ada di pikiranmu? Toh yang penting, makanan masih bisa dicerna untuk mengisi ulang energimu. Toh yang penting, minuman masih bisa melepas dahaga dan memenuhi kebutuhan proses kimiawi tubuhmu. Buat apa ditambah sedikit capek lagi untuk sekedar berpikir. Hanya mendistribusikan energi ke tempat yang sia-sia saja bukan? Lebih baik ke didistribusikan ke otot daripada ke otak, lebih tepat guna.

Huh, buat apa juga capek-capek berpikir si, yang penting kan dikerjakan. Daripada diam? 

Lalu, apakah kau tidak pernah belajar sampai belum tahu atau lupa yang menjadikan kau tiba-tiba tidak tahu, bahwa diam bisa merupakan tindakan terbaik jika kau tidak samasekali berkapasitas untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Bukan diam  justru dari mencegah keburukan. Ah, semoga saja bukan sebuah kesengajaan berlupa atau keengganan.

Pada rutinitas, jangan-jangan kau salah menempatkan takut. Ketimbang kehilangan waktu, jangan-jangan justru takut kehilangan materi–uang. Seperti tidak bisa mengkonversi saja nilai waktu yang hilang menjadi uang. Apa kau tidak merugi dua kali jadinya? Coba kau hitung saja durasi berkendaramu sehari, seminggu, sebulan, setahun dan bertahun-tahun ke depan.

Lalu dengan pongah kau menuntut super duper mega perubahan pada instansi, sistem, kultur dan sikap 240 juta jiwa orang? Lalu dengan entengnya, memang dasar orang (sensor sebuah negara). Memangnya kontribusi apa yang sudah kau berikan? Apa yang sudah kau korbankan? Bentuk kenyamanan dan keamanan yang bagaimana yang telah kau pertaruhkan? Tidak perlulah kau jawab, aku yakin jawabanmu pun juga sama dengan orang-orang yang dasarkan tadi. Jadi bersegeralah kau sisihkan uang untuk kau belikan buku, kemudian jangan hanya uang yang mampu kau luangkan, tapi luangkanlah waktumu untuk membaca apa yang sudah kau beli itu!

Lalu perlihatkan tulisan-tulisanmu yang semoga bukan sekedar menulis!

Note to Myself.

Advertisements

2 responses to “Kontemplasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s