Pada Akhirnya, Ini Tentang Bagaimana Kita Mengelolanya

Seiring dengan perkembangan kehidupan manusia. Maka turut berkembang pula varian aktivitas yang mengiringinya. Varian ini menjadi sebuah keniscayaan yang timbul dalam mempermudah diri aspek kehidupan kita masing-masing. Tentang bagaimana siklus energi berproses. Tentang bagaimana siklus kekayaan berproses. Tentang bagaimana siklus kependudukan berproses. Tentang bagaimana siklus pemerintahan berproses. Serta berbagai tentang yang kian bermunculan, berduplikasi tak terbendung.

Jika dulu manusia hanya sekedar makan agar dapat memenuhi energinya. Maka sekarang, urusan makan tidak pernah lagi menjadi urusan sederhana. Bagaimana komposisi dan proporsi dikelola kini, menjadi sorotan penting dari bagian siklus hariannya.

Jika dulu manusia hanya sekedar berpindah agar dapat mencapai lokasi tertentu. Maka sekarang, urusan berpindah tidak pernah lagi menjadi urusan sederhana. Naik apa, lewat mana, menggunakan moda apa, berapa lama dan biayanya menjadi sorotan tak kalah penting dari tujuan akhir tujuannya.

Jika dulu manusia hanya membutuhkan listrik sekedar untuk penerangan malam. Maka sekarang, urusan energi tidak pernah lagi menjadi urusan sederhana. Mengingat varian energi kita tidak sebanyak pilihan makanan kita. Dan perbedaan besar lainnya lagi, sejumlah energi tidak dapat diperbaharui kembali. Kemudian energi pun menjadi primadona ditengah-tengah perebutannya diantar manusia.

Jika dulu manusia hanya membutuhkan sepetak dua petak lahan untuk dapat ditinggali — bahkan tak perlu lahan pada masa nomadiknya. Maka urusan lahan kini tidak pernah dan tidak akan pernah dipandang sederhana lagi. Mengingat ucapan Malthus tentang regenerasi manusia yang cepat mengikut deret ukur, dan kabar kurang menyenangkannya lagi lainnya, lahan tidak akan pernah bertambah jumlahnya.

Jangan lupa bahwa penyempitan lahan tidak hanya berefek pada lahan huni. Tetapi juga pada lahan makanan sebagai sumber energi. Semoga saja manusia tidak lupa bahwa dia masih butuh makanan dari hasil bumi.

Kesetimbangan alam di bumi manusia, pada setiap waktu terus menerus menuntut keseimbangan siklus. Konversi input menjadi otuput, apa yang diambil dengan apa yang dikembalikan kembali. Jika kesetimbangan ini terusik di ambang tolerasinya. Mungkin kita tidak boleh lupa bahwa alam memiliki kemampuan menyeimbangan dirinya. Dan kabar buruknya adalah, kita tidak pernah tahu kapan dan bagaimana bumi itu ‘bergerak’ untuk menyeimbangkan dirinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s