Cara Merespon di Negeri Dongeng

butterfly_effect

Sampai detik ini saya masih sungguh bingung dengan cara mayoritas orang di Negeri Dongeng ini dalam merespon sebuah komuniasi. Pada beberapa kesempatan saya menjadi admin grup atau kebetulan menjadi orang yang mengatur jadwal pertemuan. Kedua hal ini yang kerap kali menjadikan saya harus puas berakhir dengan rasa frustasi. Misalnya saja ketika membutuhkan fast respon untuk memutuskan bahwa satu keputusan harus segera diambil dan yang terjadi lebih sering sesuai ekspektasi: No respon atau tidak direspon.

Tidak bohong, saya juga pernah melakukan hal tersebut, tapi saya belajar bahwa menanggapi atau merespon itu sesuatu yang penting. Saya belajar ketika menjadi planner, admin atau ketua. Dan dari sekian pengalaman tidak direspon ini saya juga belajar untuk menyediakan sejumlah alternatif atau plan dari A sampai Z sebelum dilempar ke floor — sebelum pengalaman tidak mengenakan untuk tidak ditanggapi akan terjadi — sehingga dengan melakukan cara itu harapan (saya) adalah ada respon meskipun hanya sekadar jajak pendapat.

Apalagi untuk sekedar mengucapkan tiga ungkapan penting dalam keseharian: “Tolong”, “Maaf” dan “Terima Kasih”. Rasa-rasanya bangsa ini masih terlalu jauh dari kebudayaan berungkap kata seperti itu. Meskipun terlihat seperti lip service yang agaknya basa-basi dan biasanya di-zhon-kan dengan “ah, paling tidak ikhlas”. Padahal siapakah kita sehingga harus menilai keikhlasan atau malah menilai hati seseorang. Bukankah kita hanya dianjurkan untuk tersenyum dan akan lebih baik lagi kan jika ungkapan tersebut bisa diiringi? Dan di kesempatan yang lain kita diajarkan untuk ber-zhon baik atau (lebih dikenal) asas praduga tak bersalah.

Entahlah, saya memandang peristiwa seperti ini yang berlebihan atau bagaimana. Saya hanya yakin hilangnya kepedulian kita untuk merespon atau menanggapi hal-hal (besar maupun kecil) yang terkesan sepele, kecil bin tidak penting ini memiliki butterfly effect. Satu kepakan sayap kupu-kupu disini menghasilkan badai angin besar disana. Dan saya seperti yakin bahwa ketidakpedulian dalam skala besar ini merupakan sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit dari ketidakpedulian dari skala kecil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s