The Hard Work of Understanding

vulcan-emoticons

Judul di atas adalah satu judul postingan blog Seth Godin yang di-post kemarin, yang baru saya baca barusan. Dari judul itu, saya sepakat atas kesulitannya memahami dan juga untuk dipahami. Interaksi manusia sendiri saja sudah perkara lain untuk dipahami, apalagi komunikasinya. Pernyataan dari Seth Godin di awal paragraf pembukanya begini: Sometimes, we’re so eager to have an opinion that we skip the step of working to understand. Why is it the way it is? Why do they believe what they believe?

Dimana kalau diterjemahkan secara bebas seperti ini: Kadang-kadang, kita begitu bersemangat untuk memiliki pendapat bahwa kita lewatkan saja langkah/tahapan dari upaya memahami. Mengapa cara itu? Mengapa mereka percaya apa yang mereka percaya?

Saya mengenal orang(-orang) yang sama, yang juga sepaket dengan karakternya yang sama, dalam waktu yang sudah tidak bisa dikatakan sebentar. Tapi, masih saja sering untuk gagal paham untuk tahu apa maksudnya, apa maunya, kenapa begini, kenapa begitu dan lain-lainnya. Kita seperti terjebak, pada kekhawatiran dan prasangka kita sendiri ketika harus menanggapinya atau tidak, jika menanggapi harus seperti apa. Sampai pada akhirnya saya memilih untuk ‘tidak berpikir’ saja untuk menanggapinya. Automatisasi yang kadang bagus kadang tidak, kadang juga tidak ada tanggapan balik (entah karena sekarang saya yang tidak dipahami atau karena saya dua kali gagal untuk paham)

Ada hal penting yang saya lupakan, bahwa manusia (yaitu saya) adalah makhluk yang paling dinamis, berubah-berubah sepanjang waktu sampai akhir hayatnya. Lalu dari pernyataan lainnya Seth Godin menulis: We skip reading the whole thing, because it’s easier to jump to what we assume the writer meant. Karena lebih mudah untuk melompat ke apa yang kita asumsikan dari maksud si penulis (baca: sok tahu). Kita begitu mudah menyimpulkan segala hal, bahkan mungkin ketika anda belum benar-benar selesai membaca tulisan ini.

Saya (mau tidak mau) tidak bisa menyalahkan apapun, siapapun. Saya hanya akan terus ‘bekerja keras’ untuk bisa memahami. Bukankah banyaknya usaha akan memperbesar kemungkinan kita untuk berhasil (paham dalam hal ini) ?

Semoga tidak gagal paham.

Advertisements

3 responses to “The Hard Work of Understanding

  1. Itulah kebiasaan kita. Saya sendiri juga suka begitu..loncat-loncat kalau baca sesuatu. Awal, akhir..kemudian baru setahap demi setahap.
    Tapi kalau ada yang saya suka banget, pasti saya baca dari awal mula tanpa lihat akhirannya, biar penasaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s