Katak Dalam Tempurung Kaca

“Dia (Allah SWT) menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.” [AlQur’an 45:13]

226016_10151277568808429_657555637_n

Pernahkah kamu dalam situasi “kebanjiran” ide? Situasi dimana pikiran kita menampung banyak hal-hal — yang menurut kita — begitu penting. Seakan-akan semua ide itu harus diwujudkan — seluruhnya — pada tiap aspek kehidupan kita dan juga orang lain. Mungkin juga kamu pernah terpikir bahwa apa yang harusnya dikerjakan orang lain — seharusnya — tidak seperti itu? Kemudian pada kesempatan lain terbesit dalam pikiran kita, “Saya bisa melakukan lebih baik dari orang itu.”

Saya pernah dalam situasi-situasi tersebut, berada pada ruang pikir sendiri sambil mengawang-awang ingin berbuat ini dan berbuat itu, mengomentari orang lain (dalam hati) bahwa saya bisa melakukan apa yang dia kerjakan, bahkan ( mungkin dengan sombong) merasa bisa menghasilkan lebih dari dia. Mudah (dan menggoda) memang melakukan hal-hal seperti itu. Sampai yang membedakan adalah orang lain telah lebih dulu memperbesar kemungkinan karyanya untuk gagal atau berhasil. Sedangkan, kita hanya terbatas baru mampu mewujudkan angan-angan.

Meski begitu, bukan berarti bahwa sibuk dan kerja keras menjadi semua terlihat baik-baik saja. Menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah sibuk dan kerja keras tersebut sudah berada pada jalan yang baik dan lurus? apakah sibuk dan kerja keras tersebut telah benar-benar efisien?

Jangan-jangan, ketika roda kehidupan telah berputar lagi, seorang yang hanya sibuk berangan-angan tadi sudah sadar dan melakukan perencanaan dengan baik. Kemudian kesibukan dan kerja kerasnya telah berada pada jalan yang lurus dan baik dengan keefisienan yang mampu lebih unggul dari sang pekerja keras dan sibuk yang telah lama bergelut bersama waktu.

Maka, mungkin ada baiknya kita tidak pernah berhenti berpikir dan terus berpikir bahwa apa yang kita lakukan sudah yang terbaik. Jangan-jangan, kita adalah katak yang sudah keluar dari tempurung kayu, tapi masih berada di dalam tempurung kaca. Sampai ketika kita benar-benar melompat kemudian kepala kita benjol karena kejedot, baru tersadarlah kita.

Don’t just say,”just do it!”, but also,”think again!’

Advertisements

One response to “Katak Dalam Tempurung Kaca

  1. Manusia era kini adalah mereka yang banyak angan namun tak kunjung merealisasikan apa yang mereka anggap bahwa ide-ide mereka adalah yang paling keramat.

    Dan betul katamu, yang lebih parahnya lagi, mereka tidak menarik kebelakang apakah yang mereka lakukan itu adalah hal yang direstui oleh Sang empunya kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s