Simplicity

“If you can’t explain it to a six year old, you don’t understand it yourself.” – Albert Einstein

Setiap hari kita dihadapkan pada kompleksitas. Informasi, tugas dan koneksi yang kompleks. Kesederhanaan begitu jarang ditemui. Tapi, apa arti kesederhanaan itu? Simplicity means achievement of maximum with minimum means — kesederhanaan berarti pencapaian maksimal dengan sarana minimum, begitu tukas Einstein. Sesuatunya bekerja sederhana secara intuitif.

Mungkin jika kita melihat dan menggunakan produk Apple dan bagaimana kita mencari sesuatu pada laman Google. Kita bisa mendefinisikan bagaimana kesederhanaan itu. Jika kita mau melihat bagaimana seluruh proses itu bekerja di balik layarnya serta kepaduan komponen satu dengan yang lainnya. Maka kesederhanaan itu tak ayal adalah hasil dari kekompleksan.

Bagaimanapun kesederhanaan itu tidaklah pernah sederhana. Masalahnya bukan bahwa konsep-konsep kompleks itu yang dibuat terlalu sederhana. Tapi, kita dapat berhenti memperumit. Setidaknya ada 5 cara yang disarankan oleh John Maeda, penulis The Laws of Simplicity.

Pertama,  cara paling sederhana untuk mencapai kesederhanaan adalah melalui pengurangan yang tepat.

1

2

Kedua, pengorganisasian membuat sistem yang banyak tampak sedikit.

3

Ketiga, penghematan waktu bisa menyederhanakan.

4

4b

Keempat, pengetahuan membuat segala sesuatunya lebih sederhana.

5

Kelima, beberapa hal tidak pernah dibuat sederhana. And that’s fine.

6

Sumber-sumber gambar:

referensi

Advertisements

2 responses to “Simplicity

  1. Pingback: Merespon Perubahan | dediwiyanto·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s