Resolusi Keuangan 2.0: “Untuk Indonesia yang Kuat” [Lanjutan]

There is no wealth like knowledge, no poverty like ignorance.”

— Ali bin Abu Thalib (Sid Meier – Civilization IV)

consumption-transumption1

Melek Keuangan

Hari ini saya fokus dengan mengevaluasi pendapatan dan pengeluaran saya selama setahun ini. Sudah setahun ini juga saya menggunakan fasilitas di web Ngaturduit.com. NgaturDuit.com adalah layanan manajemen keuangan pribadi secara online yang disediakan secara gratis. Dengan fitur-fitur yang bisa mencatat seluruh kegiatan harian transaksi, mengatur anggaran per slot kebutuhan, serta berbagai aplikasi pendukung lain yang telah terintegrasi di dalamnya.

Jadi, pada akhir bulan atau akhir tahun seperti sekarang ini, saya bisa melihat melalui grafik batang pendapatan dan pengeluaran selama sebulan hingga setahun penuh. Kemudian bisa dilihat juga komposisi jenis-jenis pendapatan dan pengeluarannya dalam grafik pai. Sederhana dan memudahkan.

Saya sendiri belum terlalu lama melek soal keuangan. Tahun-tahun yang lalu, saya hanya sekedar mencatat pengeluaran saja. Tanpa pernah melakukan evaluasi dan perencanaan atas aliran kas uang yang masuk dan keluar dari dompet saya. Sampai saya pernah ‘nyasar’ di artikel-artikel yang ditulis oleh Pak Muhaimin tentang ekonomi — yang mengusung ekonomi syariah — dan bagaimana sebenernya ketidakadilan dari alat tukar yang bernama uang itu.

Golongan Menengah

Tentu saja untuk mengusung kembali alat tukar yang paling adil yakni emas berupa dinar dan dirham  memerlukan waktu yang tidaklah sebentar. Sebagaimana perjuangan orang-orang yang dulu menjadikan uang sebagai alat tukar masa kini menjadi seperti sekarang ini, butuh waktu ratusan hingga ribuan tahun. Meskipun begitu, bukan berarti kita hanya dapat menggerutu, menyesal dan tidak melakukan apa-apa. Berhubung kita memang masih terikat pada sistem yang menggunakan uang sebagai alat tukar resmi. Mau tidak mau kita harus memperdayakan uang ini demi kesejahteraan umat, yang sebelumnya harus juga diiringi dengan kesejahteraan pribadi. Setidaknya inilah kelugasan pertanyaan dari buku “Untuk Indonesia yang Kuat” Oleh Ligwina Hananto.

Indonesia sebagai negara berkembang yang memiliki potensi jumlah penduduk yang besar. Memberikan kesempatan yang besar juga hadirnya para golongan menengah yang mampu menjadi penggerak utama transaksi eknomomi nasiona. Golongan menengah yang mempercepat roda perekonomian, dengan tingkat konsumsi yang tinggi juga di sisi lain memberdayakan sekaligus bagi dirinya, keluarga dan orang-orang terdekatnya. Oleh karena itu, golongan menengah di Indonesia menjadi katalisator dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Siapa sebenarnya golongan menengah itu? Siapapun yang membaca blog ini menggunakan laptop dengan akses paket internet yang dibayar setiap bulannya, serta keesokan hari sudah memiliki agenda-agenda yang harus dikerjakan hingga menjelang malamlah para golongan menengah tersebut. Saya, anda dan 22,5 juta orang di luar sana di batasan wilayah geografis Indonesia.

Inflasi

Inflasi menjadi hal yang cukup populer di ingatan kita. Kenaikan inflasi menyebabkan uang yang kita simpan sekarang ini, akan bernilai rendah dalam rentang waktu ke depan. Sehingga tabungan menjadi pepatah yang kurang tepat untuk tingkat kesejahteraan yang baik dalam memenuhi kebutuhan hari ini dan esok.

Tapi dengan adanya berbagai tantangan ini, tidak seharusnya menjadikan kita justru takut hingga malah mengerjakan apa yang dilarang Allah atau meninggalkan yang justru dianjurkan Allah. Setidaknya itu pesan yang saya dapatkan dari artikel Pak Muhaimin tentang Intisari Ekonomi Umat. Berikutnya adalah sebagian paparan dari beliau, berkenaan dengan jenis transaksi dan pengeluaran:

  • 3 Jenis Transaksi

3_2

Ada tiga jenis transaksi utama dalam dunia usaha, hanya satu yang sangat terlarang yaitu Riba dan akan dimusnahkan oleh Allah (QS 2 :275; 2 : 276), yang lainnya halal yaitu Jual-Beli (QS 2 : 275) dan bahkan satu lagi dijanjikan kesuburannya oleh Allah yaitu Sedekah ( QS 2 : 276).

Logikanya seorang pengusaha mukmin pasti akan berlari sejauhnya dari Riba karena selain sangat terlarang juga akan membawa kehancuran usahanya. Sebaliknya pengusaha mukmin akan aktif menghidup-hidupkan berbagai jenis jual beli – menghidupkan pasar – yang berarti menghadirkan kemakmuran bukan hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga orang lain. Bahkan juga pengusaha yang beriman akan banyak-banyak bersedekah, memutar hartanya bukan hannya karena pertimbangan ekonomi , tetapi juga pertimbangan sosial.

  • 3 Jenis Pengeluaran

3_5

Pelaku usaha mukmin yang bisa mengendalikan pengeluarannya secara berimbang untuk tiga keperluan yaitu Konsumi, Investasi dan Sedekah – dia akan ditolong oleh Allah dengan ‘hujan khusus’ – yaitu pertolong yang datang khusus kepadanya – tidak kepada orang lain.

Dasarnya adalah hadits hadits Rasulullah SAW yang panjang sebagai berikut : Dari Abu Hurairah RA, dari nabi SAW, beliau bersabda, “ Pada suatu hari seorang laki-laki berjalan-jalan di tanah lapang, lantas mendengar suara dari awan :” Hujanilah kebun Fulan.” (suara tersebut bukan dari suara jin atau manusia, tapi dari sebagian malaikat). Lantas awan itu berjalan di ufuk langit, lantas menuangkan airnya di tanah yang berbatu hitam. Tiba-tiba parit itu penuh dengan air. Laki-laki itu meneliti air (dia ikuti ke mana air itu berjalan). Lantas dia melihat laki-laki yang sedang berdiri di kebunnya. Dia memindahkan air dengan sekopnya. Laki-laki (yang berjalan tadi) bertanya kepada pemilik kebun : “wahai Abdullah (hamba Allah), siapakah namamu ?”, pemilik kebun menjawab: “Fulan- yaitu nama yang dia dengar di awan tadi”. Pemilik kebun bertanya: “Wahai hambah Allah, mengapa engkau bertanya tentang namaku ?”. Dia menjawab, “ Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang inilah airnya. Suara itu menyatakan : Siramlah kebun Fulan – namamu-. Apa yang engkau lakukan terhadap kebun ini ?”. Pemilik kebun menjawab :”Bila kamu berkata demikian, sesungguhnya aku menggunakan hasilnya untuk bersedekah sepertiganya. Aku dan keluargaku memakan daripadanya sepertiganya, dan yang sepertiganya kukembalikan ke sini (sebagai modal penanamannya)”. (HR. Muslim).

[Mungkin Bersambung]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s