Buku-buku Penghujung Tahun

Ceritanya saya sedang membaca sejumlah buku. Saya suka membaca buku dengan cara melompat-lompat. Dari satu buku ke buku lainnya. Terkesan tidak teratur dan membingungkan. Tapi, entah kenapa saya lebih suka membaca seperti ini. Apakah ini artinya saya tidak fokus? Menurut saya tidak demikian. Ini seperti triathlon saja, melaksanakan tiga jenis perlombaan yang berbeda pada satu kesatuan rally yang terus menerus. Hanya saja, saya mesti menyiapkan diri (beradapatasi/memanaskan mesin) kembali ketika kembali pada siklus buku yang lebih dahulu saya baca.

Jadi, saya justru menikmati ketika buku-buku tersebut, belum habis saya baca. Seperti menyisakan seluruh bagian terbaik dari makan malam yang sedang saya santap saja. Mungkin seperti itulah gambaran yang bisa saya coba analogikan. Lalu, untuk penghujung tahun yang hanya segelintir hari ini saya sedang setidaknya lima buah buku yang lumayan berat secara fisik maupun isi.

DANBROWN_Inferno_creepy

Pertama dan yang belum selesai juga, Novel Inferno karya Dan Brown yang berjumlah halaman 639. Sudah hampir sepertiga jalan sebetulnya saya baca, hanya saja, entah kenapa novel ini tersisih dengan beberapa buku yang lebih ringan dan tipis lainnya. Akhirnya, petualangan Robert Langdon dan Sienna Brooks dalam menguak misteri senjata pemusnah massal melalui teka-teki Dante ini harus rela menunggu dalam  tumpukan di rak samping meja saya.

17253247

Kedua, adalah buku hadiah dari milad saya belum lama ini. Dulu hampir pernah hampir beli, tapi tidak benar-benar terbeli. Sampai ternyata buku ini jodoh melalui seorang teman karib sediskusi, seperdebatan, sefilosofisan, dan sepercakapan panjang nan dalam. Bukunya Agustinus Wibowo yang halaman akhirnya ditandai angka 552 ini adalah sebuah buku perjalanan, seorang travel writer yang menjadi kontributor pun penulis dalam rangkaian-rangkaian kisah-kisah perjalanan hebatnya menyusuri dunia. Meski ini adalah buku keempatnya, tapi ini adalah buku pertama yang justru saya baca dari tulisan Agustinus. Dan saya lebih banyak mengenalnya justru dari internet, blog dan catatan-catatan perjalanannya. Oiya, sampai lupa memberi tahu judulnya, yaitu Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan. Dan rasanya begitu cocok seiring jatah umur saya yang sedang berkurang genap setahun.

pulang

Ketiga, adalah Novel pemenang Khatulistiwa Literary Award 2013 ini karya Leila S.Chudori. Tidak banyak — tidak ada malah — yang bisa saya ceritakan dari novel ini. Selain saya sedikit baca mengenai resensinya (mungkin ulasan ya, atau kritik, yang pasti mengomentari) di blog A.S Laksana yang memberikan pujian dan kritik dari gaya bahasa sang penulis Leila yang unik kalau boleh juga dibilang langka ditengah-tengah mainstream-nya para penulis di Indonesia. Meskipun penggarapannya masih jauh dari sempurna. Saya kutip saja langsung salah satu narasi dari Novel berjudul Pulang setebal 449 halaman ini plus komentar penggarapannya.

“Seperti jala hitam yang mengepung kota; seperti segalon tinta yang ditumpahkan seekor cumi raksasa ke seluruh permukaan Jakarta.” (Saya kaget pada pemerian tentang malam yang sudah turun ini. Cukupkah hanya segalon tinta untuk menghitamkan seluruh permukaan Jakarta?) Jika tidak hati-hati, anda tahu, hasrat untuk memegahkan bahasa sering membuat penulisnya tersandung sendiri. Lebih serius dari itu, pemerian saya kira juga harus mempertimbangkan nalar.

15751404

Dilanjutkan buku keempat yang merupakan karya penulis kenamaan yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita yaitu Malcolm Gladwell. Buku-buku pendahulunya yang telah lebih dulu best seller sebelumnya; The Tipping Point, Blink, Outlier dan What the dog saw. Memudahkan debut buku selanjutnya yang berjudul David and Goliath: Ketika Si Lemah Menang Melawan Raksasa. Buku bergenre Psikologi Populer ini begitu banyak mengupas hal-hal kecil berkesan remeh temeh yang sering kali — sengaja — kita tidak mau pedulikan. Sampai ketika selesai membaca 277 halaman sampai selesai. Mungkin, kita akan memiliki cara pandang yang sangat jauh berbeda atas sesuatunya.

grown-up-digital-feature2

Buku kelima yang baru saja saya beli hari ini atau kemarin (jika postingan ini justru ter-publish melewati batas hari) adalah buku berjudul Grown Up Digital karya Don Tapscoot. Dengan ketebalan yang mencapai 460 halaman ini, rasanya saya butuh akselerasi jika mau menyelesaikan salah satu buku yang — juga — dibaca dari orang-orang yang saya follow di blog dan facebook kemarin-kemarin. Salah satu buku umum populer yang mengupas tentang generasi muda pengguna internet yang mampu mengubah dunia. Rasa-rasanya patut untuk menjadi rujukan untuk melandasi resolusi tahun baru ini.

Demikian ulasan buku-buku yang sedang saya baca di penghujung tahun ini. Dan tidak sabar juga untuk menyambut buku-buku bergizi di permulaan awal tahun nanti. Insyaallah.

Advertisements

4 responses to “Buku-buku Penghujung Tahun

  1. sama saya juga sering baca buku 5 sekaligus, tapi itu sebenarnya tak bagus. seringnya tak tuntas baca.
    hanya dengan keteguhan hati kita mau menyelesaikan bacanya, dan eman-eman duit dengan membelinya tentunya.
    happy reading…

    • insyaallah, kalau dibuat beli buku nggak eman-eman mas, soalnya jadi investasi jangka panjang, terlepas dari kita baca sekarang atau nanti, hehe

      happy reading juga 😀

      • O, gitu. Sip mas, setuju. Ayo tuntaskan buku-buku yang belum selesai terbaca. Saling menyemangati, biar makin semangat, bukunya diceritain di postingan blog, nantinya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s