Dua Komoditas Kepedulian yang Langka

1497639_583012481771981_597278834_n

Saya suka blogwalking (membaca random blog-blog orang lain, entah blogger yang saya belum kenal atau — sengaja —  telah saya kenal) setiap pagi. Tidak hanya blogwalking di WordPress, tapi juga baca notes teman-teman atau orang-orang — yang belum saya kenal — di Facebook. Dari kegiatan ini, saya menemukan banyak hal yang berbeda. Bahkan jika hal itu adalah topik kekinian yang tengah berkembang di masyarakat. Selalu saja ada hal baru dan menarik dari membaca tulisan-tulisan mereka. Bahkan kalaupun itu hanya sesederhana menuliskan tentang kegiatan sehari-hari yang terkesan sepele, rutin dan monoton.

Dengan blog, saya mendapati pemikiran banyak orang dari macam latar belakang yang berbeda. Dengan kadang-kadang ide yang sepaham tentang suatu hal yang terkesan remeh temeh tapi memberikan efek makro (luas) dan berkelanjutan (terus-menerus). Meski tak jarang juga yang pendapatnya bagai langit dan bumi alih-alih bagai air dan minyak, tak akan pernah menyatu apalagi sekedar bertemu. Tapi kesemuanya itu dipaparkan melalui tulisan, entah tulisan yang memuji, mengkritik, mendebat bahkan mencela. Dengan cara yang elegan. Tulisan dilawan dengan tulisan. Meski begitu, ada selalu yang harus kita ingat bahwa kita harus berkata benar atau diam. Menulispun juga harus seperti itu, menulis benar atau diam.

Melalui membaca kita dapat menjaring segala hal-hal yang bertebaran tak karuan. Lalu, dengan menulislah kita dapat memahami hal-hal yang bertebaran tersebut. Membaca dan menulis menjadi sebuah rangkaian yang tidak terpisahkan. Seperti sebuah sistem yang harus terus menerus bergerak menuju kesetimbangannya. Seperti itulah membaca dan menulis. Kita diharapkan mampu meningkatkan level-level kesetimbangan pembelajaran diri maupun kolektif pada tingkat yang setinggi-tingginya.

Membaca dan menulis adalah kepedulian. Kepedulian untuk mau berbagi, saling memberi dan juga menerima. Tidak melulu memberi dan tidak melulu menerima. Masing-masing ada proporsinya, ada prioritasnya. Di Negeri dengan minat baca rendah, sudah pasti minat tulisnya rendah. Dengan minat tulis rendah, maka sudah pasti minat kepeduliannya berbanding lurus turut rendah. Dengan adanya krisis kepedulian yang kalau boleh dibilang cukup mengkhawatirkan, maka semua permasalahan yang kini tengah terjadi adalah turunan saja dari fakir membaca.

Bacaan kini begitu mudah untuk diakses. Media menulispun banyak dan gratis. Tapi, sekali lagi, ini bukan ada atau tidak ada, banyak atau sedikit. Melainkan mau atau tidak mau.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١)خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢)اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ (٣)الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤)عَلَّمَ الإنْسَ٥انَ مَا لَمْ يَعْلَمْ 

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, (QS. 96:1)

2. Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. (QS. 96:2)

3. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah, (QS. 96:3)

4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. (QS. 96:4)

5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. 96:5)

Advertisements

7 responses to “Dua Komoditas Kepedulian yang Langka

  1. Tingkat literasi yang baik, meningkatkan kedewasaan berpikir, dan seperti yang sudah mas Dedi sebutkan, mengasah kepedulian menjadi lebih besar levelnya.

    • Iya mas, membaca ini punya efeknya kemana-mana. Tapi dari buku baru-nya Malcom Gladwell yang baru saya baca. Di salah satu bab-nya menceritakan tentang tentang penderita diseleksia, yang menyulitkan dia untuk membaca, dan ternyata banyak dari orang-orang yang kalau boleh dibilang sukses dalam perspektif dunia yang dulunya adalah penderita penyakit yang sama.

      Mau tidak mau mereka ini, harus belajar dengan cara yang berbeda, entah dengan meningkatkan cara mendengar lalu menghapal, bernegoisasi dengan orang lain dan lain sebagainya.

      Jadi, sepertinya sampai saat ini saya masih berpikiran sempit — terjebak — bahwa membaca itu hanya melulu tentang membaca simbol berupa huruf yang dirangkai di atas kertas. Padahal seperti mendengarkanpun itu juga salah satu skill membaca, misal mendengarkan audiobook. Bahkan mungkin juga berjalan dan bertebaran di muka bumi.

      Sepertinya banyak yang memang harus kita baca dengan cara baca yang juga berbeda 🙂 . Wallahoalam.

      • Ketika momen pertama kali Muhammad mendapatkan wahyu. Malaikat Jibril terus bertanya pertanyaan sekaligus pernyataan yang sama. “Bacalah! Bacalah!” Dan jawaban Muhammad: “Aku tidak bisa membaca. Aku tidak bisa membaca.”

        Dan ketika akhirnya Muhammad mengerti, bahwa ‘membaca’ yang dimaksud Jibril bukan sekadar membaca apa yang tertulis, tapi apa yang juga ada di alam. Barulah kita mengerti selain ada ayat-ayat qauliyah, ada juga ayat-ayat kauniyah, yang jumlahnya banyak sekali di sekeliling kita. Setiap peristiwa adalah kauniyah bagi yang mau ‘membaca’-nya. Karena ketika sudah masuk di bagian ‘memahami apa yang dibaca’, hikmah dan pelajaran itu ternyata banyak sekali. 😀

        Wallahu’ alam. Contoh orang-orang disleksia yang berhasil itu bagus sekali mas. Itu membuktikan kalau potensi manusia tidak terbatas. Apa yang tidak mungkin, bisa jadi mungkin jika kita mau mengusahakannya.:D

      • Apa yang tidak mungkin — yang juga tampaknya sebagai kelemahan — dalam buku tsb disebut “kesukaran yang berguna”.

        Saya rekomendasiin untuk baca buku tsb 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s