Wabah, 3 Kaidah, dan Dakwah

tipping-pt-300x235

Penularan dalam penyakit adalah hal paling menyeramkan yang pernah terjadi pada peristiwa wabah besar di Eropa dulu. Kematian besar-besaran yang terjadi ini dikenal sebagai black death (kematian hitam). Penularan penyakit memerlukan sebuah media sebagai perantara penyakit tersebut dapat menular. Dalam tragedi besar black death, tikus menjadi media penyakit pes yang menewaskan hampir 25 juta orang. Angka yang mencengangkan bukan? atas degradasi jumlah populasi dunia yang terjadi dari peristiwa ini pada masanya.

Tetapi bukan penyakitnya yang akan saya bahas pada kesempatan ini. Saya ingin mengangkat justru pada gagasan atas wabah atau penularannya. Pada dinamika sosial yang kita jalani, setiap kita tidak terlepas juga dari kegiatan penularan, jika tidak sedang menulari maka kita pasti sedang ditulari.Penularan sosial ini dapat berupa pengaruh untuk penyampaian gagasan, penduplikasian ide, perubahan cara pandang hingga kebiasaan.

Di dalam dunia marketing dikenal dengan juga jenis penularan hal semacam ini, namanya WOM (Words of Mouth) atau jika diterjemahkan secara bebas yaitu ketok tular. Konsepnya adalah membuat isu yang terkait dengan produk-produk yang mereka tawarkan, entah bagusnya atau jika berpikir out of the box justru jeleknya. Karena dalam prinsip WOM itu sendiri, sesuatu yang bagus dari produk atau seseorang akan disebarkan hanya ke 8 orang, sedangkan yang buruknya justru disebarkan ke 22 orang. Dalam strateginya para marketer kadang justru menyebarkan isu yang jelek kepada kepada masyarakat agar produk mereka diingat serta memperkenalkan kepada orang-orang yang belum mengenalnya.

Lalu bukannya justru menjadikan produk mereka akan dicap jelek dan mengurangi jumlah permintaan? Justru itu uniknya, yang terjadi adalah kebalikannya, pada setiap orang ada yang dinamakan empati, dimana ketika kita melihat orang atau pihak yang dituduh atau dijelek-jelekan kita tidak sekonyong-konyong mencapnya seperti itu, yang dilakukan justru mencari tahu terlebih dahulu lalu menilai dengan pemahaman yang kita miliki. Meski prosentase orang-orang seperti ini tidak memegang 100% komposisi pasar, tetapi pergerakan cara pandang masyarakat kita tengah menuju ke arah ini. Sehingga memang perlu bermacam strategi untuk masing-masing pangsa pasar yang ada.

Malcolm Gladwell penulis “gagasan” terkenal dari kejadian-kejadian yang ada di dunia pernah menulis dalam bukunya Tipping Point: Bagaimana Hal-hal Kecil Berhasil Membuat Perubahan Besar. Di dalam buku ini Gladwell mengulas tentang berbagai hal tentang wabah atau epidemi sosial dapat terjadi secara serentak dan masif di seluruh dunia. Ada kalimat yang saya highlight dari penjelasannya tentang tiga kaidah epidemi: “Dan ketika sebuah epidemi meledak, ketika keseimbangan tiba-tiba terganggu, ketika eskalasi meningkat setelah suatu kejadian, suatu perubahan telah terjadi pada satu (atau dua atau tiga) unsur tadi. Ketiga unsur perubahan ini saya sebut Hukum tentang Yang Sedikit (the Law of the Few), Faktor Kelekatan (the Stickness Factor), dan Kekuatan Konteks (the Power of Context).”

Jauh sebelum Malcolm mengungkapkan tiga kaidah epidemi tersebut. Islam telah disebarkan dengan cara yang luar biasa oleh para pedagang Arab melalui kelengkapan tiga kaidah tersebut dimana profesi pedagang atau wirausahawan memiliki proporsi yang masih sedikit (the Law of Few), kemudian dengan cara persuasif para pedagang ini memiliki sejumlah cara tertentu untuk membuat kesan yang mudah menular dan terus diingat untuk menyampaikan agama yang rahmatan lil alamin dengan selalu menjadi dai sebelum segala sesuatunya berbarengan dengan usaha mereka menawarkan dagangan-dagangan yang mereka bawa. Kaidah kedua pun terpenuhi, faktor kelekatan (the Stickness Factor).

Kemudian dikarenakan notabenenya para pedagang yang juga musafir atau traveller istilah kerennya sekarang. Sepanjang perjalanan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Para pedagang ini juga mampu menjadi penghimpun dan penyampai informasi. Mereka menjadi lebih berwawasan dari siapapun dikarenakan benar-benar mampu memililih informasi yang hanya rumor atau berita. Kebijakan bestari mereka pun mampu berelevasi pada tingkat tertinggi karena lingkungan yang terus menerus berubah, mampu mempengaruhi orang banyak dengan konteks informasi yang mereka kemas. Sebanding lagi dengan kaidah ketiga, dimana kekuatan konteks (Power of Context) mengatakan bahwa dibandingkan kelihatannya orang sesungguhnya jauh lebih peka terhadap lingkungan sekitar.

Maka tantangan terbesar bagi Dakwah 2.0 pada era ini adalah adaptif pada berbagai tantangannya. Lalu sanggupkah bagi setiap diri kita mampu menjawab tantangan-tantangan tersebut? Insyaallah kita bisa.

Advertisements

2 responses to “Wabah, 3 Kaidah, dan Dakwah

  1. Kalau tipping point dalam dakwah 2.0-nya ini tepat sasaran, sepertinya efeknya akan sangat besar sekali ya Mas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s