Ketika Ruang Kian Tergerus, Hanya Waktu yang Ibu Pertiwi Miliki

72848_192518210890181_601993610_n

There is a politics of space because space is political.” Henry Lefebvre, The Production of Space (1974).

Manusia yang diturunkan ke bumi mempunyai mempunyai tugas mengemban mengelola ruang. Mengelola ruang yang dalam artian memakmurkan bumi. Modalnya tidak hanya ruang, tetapi juga waktu. Keduanya merupakan komponen pokok dalam memenuhi syarat memakmurkan. Tidak ada kemakmuran tanpa ruang. Tidak ada kemakmuran tanpa waktu.

Pengelolaan ruang memerlukan proses yang disediakan oleh waktu. Peranan manusia hadir sebagai aktor yang mengekplorasi apa yang terkandung dalam ruang untuk ditingkatkan fungsinya. Dalam sebuah keseimbangan, akan selalu terjadi konversi, di satu sisi ada peningkatan, di sisi lain akan ada penurunan. Peran lain manusia sekali lagi ditantang untuk menghadirkan keadilan dalam menjaga keseimbangan tersebut.

Ruang menjadi primadona bagi kebanyakan orang. Sebab ruang menyimpan sejuta kebermanfaatan atas kebutuhan dasar manusia. Dimulai dari menjadi wilayah tempat tinggal hingga menghasilkan berbagai makanan melalui pertanian atau perkebunan. Belum lagi pada wilayah pengelolaan kebutuhan turunan yang hampir-hampir saja menyusul kebutuhan utamanya. Apalagi kalau bukan sumber daya energi dan mineral. Sebab keterlangkaannya menjadikan sebagian manusia menjadi musuh sebagian lainnya.

Waktu yang mengiringi ruang, seperti sebuah mantra terhebat yang pernah ada. Waktu menjadikan benih menjadi pohon, mengubah debu menjadi mutiara, mengubah jasad menjadi minyak. Fungsi waktu menyimpan misteri yang seperti tiada berujung. Seakan waktu itu adalah ruang itu sendiri, dapat memanjang pun memendek, membesar pun meluas. Berperan atas kerelatifan.

Pada berbagai waktu dan ruang tersimpan peristiwa. Bermula dari penciptaan dan berujung pada penghancuran, kemudian kebangkitan kembali. Hingga nanti pada akhirnya, setiap kita akan mendapat balasan atas amal-amal dari waktu terdahulu pada berbagai ruang yang pernah ada. Diantaranya sejarah dan impian manusia dari dan untuk ruang beserta waktu yang mengiringinya terus bergulir. Menjadikan laju peradaban manusia terus menerus berkembang secara ekspansif dan masif.

Pada fitrahnya, ruang dan waktu berperan paradoks. Pada satu sisi, ruang memberikan kesempatan bagi setiap manusia untuk menjelajahinya, di sisi lain atas ibadah kita memiliki batas-batas yang ditetapkan melalui ruang itu sendiri. Pada satu sisi, waktu memberikan kesempatan bagi setiap manusia untuk memberdayakannya, di sisi lain ibadah kita memiliki batas-batas yang ditetapkan melalui waktu itu sendiri. Sehingga seperti yang telah kita bersama kita memiliki batas dimana untuk memulai dan tidak boleh untuk solat serta dimana melakukan solat itu sendiri, memulai dan mengakhiri puasa, kegiatan dari rukun haji pada tempat-tempat tertentu.

Ruang dan waktu bahkan memiliki tempat-tempat istimewanya sendiri, kadang keistimewaan atas ruang dan waktu itu saling bertemu. Bulan Muharram menjadi istimewa karena peristiwa hijrahnya, hari Jum’at menjadi istimewa karena berbagai peristiwanya, sepertiga malam menjadi istimewa karena ketetapan-Nya. Pun dengan ruang, solat di masjid Nabawi dan Masjidil Haram menjadi istimewa karena keberlipatan pahalanya dibanding dengan tempat-tempat lain. Bumi Palestina menjadi istimewa karena ketetapan keberkahan yang ada di tempat ini. Hingga sampai detik ini pun, setiap jengkal tanahnya masih diupayakan untuk direbut oleh orang-orang, yang Allah sebut orang-orang durhaka dan melampui batas.

Tidak jauh berbeda juga dengan kondisi Indonesia dulu, atas ruang yang memiliki karakter kesuburan tinggi, maka sumber daya didalamnya diganjar banyak dan melimpah ruah. Hal ini yang menjadikan bumi pertiwi kita menjadi daya tarik dan daya pikat bagi bangsa lain untuk memperebutkan sumber dayanya melalui penjajahan. Teriring waktu dengan kompensasi darah dan air mata kita mampu merdeka atas sebuah penjajahan. Hanya saja, dengan waktu pula, metode penjajahan bertransformasi dalam sebuah bentuk yang tanpa kita sadari sebagai turunan dari penjajahan secara langsung. Penjajahan ruang tanpa harus hadir secara fisik, cukup sistemnya saja yang harus diterapkan di bumi pertiwi ini. Kapitalisme.

Atas ruang yang makin tergerus kandungan di dalamnya, hanya waktu yang kita miliki untuk mau menyadarkan diri kita ini dari penjajahan tidak langsung yang sedang kita alami. Semoga Allah memudahkan jalan kita. Aamiin.

598937_431414066941741_2006099272_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s