Limitedness

AS_80

Manusia lahir tidak membawa apapun. Tapi bukan berarti manusia tidak memiliki apa-apa. Telah ada di tiap manusia, modal yang dititipkan oleh Allah sebagai tool untuk mengemban amanah memimpin dan memakmurkan. Modal fisik yang menerus bertumbuh. Modal akal yang menerus bertambah. Modal hati yang menerus mempercayai. Modal ruh yang menerus berkembang. Modal-modal utama ini adalah kelebihan makhluk pengemban amanah, di saat langit tak mampu menaungi, bumi tak mampu menahan, gunung tak mampu menopang dan lautan untuk mengisinya.

Keterbatasan manusia sebagai makhluk yang lemah dan lupa, mampu ditopang oleh modal-modal yang dititipkan oleh Allah tersebut. Dalam keterbatasan inilah peradaban manusia mampu mencapai perkembangan teknologi dan kebudaayaan seperti sekarang ini. Bacalah, manusia-manusia Jepang mampu mengolah keterbatasan atas minimnya sumber daya alam yang mereka milliki. Bacalah, manusia-manusia Singapura mengolah keterbatasan atas kecilnya ruang wilayah yang mereka tinggali. Bacalah, manusia-manusia padang pasir atas minimnya sumber daya pangan yang mereka butuhkan.

Apakah manusia memang harus hidup dalam keterbatasan agar mereka dapat berpikir? Bukankah telah terekam jejak pada sebuah surah cinta Allah pada manusia melalui Ali Imran ke 190 dan 191 bahwa berpikir merupakan ibadah utama dalam Islam. Maka, apakah keengganan masih begitu lebih besar ketimbang meyakini dan mengamalkan. Bahkan telah sampai sebuah masa, dimana manusia cenderung merelatifkan waktu begitu cepat, sampai-sampai berpikir sepertinya mesti turut dihemat.

Bumi Allah meliputi seluruh ruang, dilingkupi oleh waktu. Tidak ada buminya yang tergadaikan oleh makhluk. Tujuan Allah atas manusia telah ditetapkan di bumi sebagai pemimpin, sebagai pemakmur. Jika memang sebagian yang lain ditetapkan sebagai musuh bagi sebagian yang lainnya. Maka keterbatasan juga pasti adil bagi kedua pihak, pun dengan ketakutan, kekhawatiran, kewalahan dan kelemahan yang mengiringinya. Ini adalah tantangan kehidupan tentang siapa yang bertahan hingga akhir untuk memenuhi ridha Allah.

Advertisements

2 responses to “Limitedness

  1. SDM yang melekat pada makhluk Tuhan yang tak lain paling sempurna manusia itu memang luar biasa, malah dari segala keterbatasan membuat itu bisa menjadi bagian untuk berbuat banyak dibandingkan orang-orang yang sempurna lainnya.

    Tulisan bagus sekali ini Mas Dedi 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s