“Cermin..cermin, Siapakah musuh Saya?”

539318_10151422973017486_917134477_n

“Hadapkan dirimu ke cermin. Dialah musuh yang harus kau kalahkan! Setiap hari.”

Mungkin dalam ketidaksadaran kita, dari setiap hari yang kita lalui. Kerap kali kita keliru melihat musuh yang sebenarnya. Musuh yang selama ini kita anggap dari pihak yang berlawanan dengan diri. Teman atau sahabat yang mengingkari. Keluarga atau saudara yang menjauhi bahkan mencederai. Atau orang asing yang entah darimana ada dalam kisah hidup yang kita lalui, menjadi musuh abadi tanpa kenal henti memusuhi. Kenyataannya, kita tidak perlu jauh-jauh mencari musuh yang nyata — selain setan –, musuh yang begitu dekat dan senantiasa mengawasi dari pantulan cermin tempat kita bercermin sekarang. Ya, dia adalah diri kita sendiri.

Malam ini, untuk kesadaran ke-sekian kalinya yang saya temukan. Tidak saya kira bahwa pengingat ini justru saya dapatkan dari berlari di treadmill. Kebetulan saja (baca: skenario Ilahi) ketika saya memulai lari hari ini dengan target 30 menit non-stop dengan kecepatan 7km/jam, entah kenapa saya justru fokus pada siluet bayangan pada kaca di hadapan saya. Alhasil, berfilosofislah diri ini, tiba-tiba saja seperti ada bunyi klik di kepala saya. Sebuah pembelajaran dengan refleks menyuguhkan saya sesosok musuh yang selama ini tidak pernah saya sadari untuk saya lawan. Sesosok musuh yang rupanya begitu identik, begitu mirip. Saya.

Musuh yang harus saya taklukan. Musuh yang begitu semangat di 10 menit di awal treadmill saya. Kemudian tampangnya yang begitu tidak mengenakan, cemberut malah di 10 menit kedua seperti tanpa perlawanan untuk mau menyelesaikan 10 menit terakhir, enggan malah. Sampai pada tampangnya yang begitu minta dikasihani agar saya mau berhenti di 10 menit terakhir dari goal 30 menit berlari non-stop. Duh, tampangnya yang merayu, tampak kelelahan, tampak minta dikasihani. Sosok musuh seperti itulah yang harus kita enyahkan. Bagaimana caranya? Dengan terus memaksa, bergerak lebih cepat dari gerakan yang ia lakukan. Tatap matanya dengan semangat yang penuh terbakar. Teriakan kepadanya, bahwa kita lebih kuat dari dirinya. Jangan pernah tergoda untuk berhenti, lebih baik lari cepat ketimbang berhenti ketimbang mengaku kalah pada sosok di hadapan kita ini.

Jika pada pertandingan fisik ini saya mengalah, saya tidak tahu lagi pertandingan manalagi yang akan mampu saya menangkan. Dengan keyakinan bahwa musuh saya adalah sosok bayangan dari pantulan diri saya ini. Saya meyakinkan diri ini untuk menjadi begitu kuat, untuk melangkah lebih cepat, selangkah lebih jauh dari sosok tersebut. Saya tunaikan kemenengan besar hari ini dengan waktu  30 menit lebih sedikit tadi dengan hasil 3,44 km. Rekor atasnya dari 3 bulan terakhir saya berlari, yang mentok-mentoknya hanya di sekitaran 2 komaan kilometer.

Pada perseteruan lainnya. Sosok ini harus saya hadapi pada kejadian-kejadian yang membutuhkan tekad. Bahkan pada detik ini ketika saya mencerikan perseteruan dengannya tiga jam yang lalu. Tekad untuk konsisten dalam mengerjakan sesuatu setiap harinya. Pada kesempatan ini, sosoknya muncul dalam tampang muka mengantuk dan menyindir saya, bahwa saya sudah terlalu lelah untuk menulis. Dengan bujuk verbalnya, penuh dengan kata-kata manis mencoba meninabobokan saya untuk menunda. Ya, salah satu strategi terbesarnya. Giving a reason.

Dan jika strategi ini tidak berhasil, tentu saja dia punya seribu cara untuk menemukan celah kelemahan diri saya. Tentu saja mudah baginya untuk menemukan celah disana-sini, sebab dia selalu bersama saya, setiap saat di setiap detik yang saya lalui. Maka tak begitu susah ketika dia menyadari bahwa saya begitu malas untuk menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Bahkan sepertinya dia berhasil dengan memberikan alasan bahwa tulisan saya tidak apa-apalah diselesaikan pada baris ini. Toh saya sudah mampu melebih dari 300 kata pada postingan blog kali ini. Kali ini bahkan saya tidak tahu, apakah saya atau dirinya yang menang. Apakah dirinya atau diri ini yang telah berhasil menipu dari perjuangan untuk menyelesaikan tulisan kali ini. Semoga saja saya. Semoga saya.

Advertisements

3 responses to ““Cermin..cermin, Siapakah musuh Saya?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s