Dilema Menulis

Kadang (Baca: Sering) saya dilema untuk menulis di posting-an blog ini. Apakah saya harus menulis panjang atau menulis pendek. Kalau panjang, khawatir yang baca lekas bosan, baru satu paragraf jangan-jangan udah mau pindah saluran blog lain saja. Kalau pendek khawatir apa yang saya coba sampaikan tidak tersampaikan, atau jadi ngambang. Duh!

Jadi, karena pertentangan dalam diri itu yang kadang-kadang justru menghambat saya untuk menulis. Khawatir ini, khawatir itu, khawatir ini itu. Malah tidak ada tulisan sama sekali dan berujung pada tidak adanya tulisan yang harus dibosankan atau tulisan yang berisi penjelasan ngambang. Nol aksi dan pasti nol reaksi. Duh!

Kadang, ketika menulis pendek, seperti ada yang kurang, banyak yang ingin disampaikan. Lalu, ketika menulis panjang, sepertinya bingung mau bagaimana isinya, justru jadi malas. Entah, apakah dilema ini dihadapi oleh blogger atau penulis lain ya. Sepertinya memang harus ada prioritas dan batasan dari apa yang ingin kita sampaikan. Sebabnya permasalahan setiap orang adalah sama. Kita tidak punya banyak waktu. Just it.

Mungkin memang harus melihat kondisi juga ya, kalau memang perlu dipanjangkan, ya dibuat serial saja. Jadi selain membuatnya lebih sederhana, bisa juga membuat penasaran orang yang ingin tahu kelanjutan pembahasannya. Hehehe. Kalau memang harus pendek, ya memang itu saja yang ingin disampaikan. Selama inti yang ingin disampaikan tersampaikan dengan baik, sepertinya tidak perlu ada yang dipermasalahkan.

Kemudian tulisan ini masuk di paragraf yang kelima, sudah lumayan panjang sebenarnya. Tapi masih banyak yang ingin saya sampaikan. Rasanya saya perlu mendistribusikan semangat menggebu saya untuk sharing melalui tulisan. Dan menaruh sabar pada setiap distribusi tadi agar tulisannya berkelanjutan. Tidak sekadar menjadi tulisan mood-mood an saja. Semoga.

DSC_0946[1]

 

(NB: Buku-buku yang di foto bukan punya saya. Saya ambil fotonya untuk rencananya nyari buku-buku itu untuk dibaca, foto diambil di kediaman Infofotografi.net)

Advertisements

3 responses to “Dilema Menulis

  1. #berbagipengalaman πŸ™‚
    Sama, pak. Awalnya saya juga begitu. Bukan lagi kekhawatiran ttg panjang atau pendeknya tulisan, tapi “publish tulisan di blog ga ya?” sampai-sampai saya ga mau bikin blog hanya karena alasan yang tidak logis: takut.

    Entah takut atau khawatir, sama saja. Sama-sama enggan untuk berbuat karena sudah berpikir negatif tentang apa yang terjadi. Padahal apa yang akan kita lakukan, masih tahap “akan” dan belum terjadi. Kita hanya butuh keberanian untuk melakukan. Justru tulisan harus ditulis dengan penuh kejujuran. Apalagi aka ditulis di blog sendiri. Biarkan orang menilai. Toh yang dinilai adalah muatan dari tulisan kita. Seiring sejalan, sambil memperbaiki bahasa, EYD, dan teknik penulisan lainnya. Bukankah belajar menulis adalah proses panjang? πŸ˜€ hehe, maaf pak, komen kepanjangan. Tidak ada maksud untuk menggurui. Maaf
    *curhat ceritanya*

    • Salam kenal πŸ™‚

      Iya. Memang, sebagian besar kekhawatiran besar kita justru tidak pernah terjadi. Kekhawatiran yang berlebih malah jadi penghalang kita untuk terus maju.

      Yang penting kita tujuan menulis kita adalah baik dan bermanfaat. Jadi ketika nanti kemampuan menulis sudah mumpuni, berbanding lurus juga pesan kebaikan yang ingin disampaikan yang lebih baik lagi.

      Saya malah berterima kasih dengan komennya kok, hehe. Karena jadi bisa sharing seperti ini. Pengetahuan dan ide kita jadi bertambah dan meluas. Salam blogger πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s