Priorité

[Disclaimer: Postingan ini terbebas dari segala tuntutan pembacanya yang merasa harus lebih banyak berpikir lagi dalam mengeksekusi-eksekusi segala rencananya. Sampai akhirnya mungkin pembaca malah tidak jadi mengeksekusi rencananya 😀 ]

Mâ la yudraku kulluhu la yutraku kulluhu — If you can not reach all of them, do not leave it all.

“Most of us spend too much time on what is urgent and not enough time on what is important.”
Stephen R. Covey

“They will envy you for your success, your wealth, for your intelligence, for your looks, for your status – but rarely for your wisdom.”
Nassim Nicholas Taleb

Prioritas menjadi sebuah permasalahan kolektif, satu sama lainnya sepakat bahwa komitmen pada prioritas yang telah disusun adalah hal tersulit. Karena memang, menyusun skala prioritas sendiri menjadi sebuah seni tersendiri bagi setiap orang. Sebagian berhasil, dan tak sedikit yang belum berhasil — jika tidak mau dibilang gagal.

Prioritas memiliki dua unsur penting, yakni penting dan mendesak. Kombinasi keduanya bisa diposisikan pada empat buah kuadran. Kuadran pertama, mendesak dan penting. Kuadran kedua, mendesak dan kurang penting. Kuadran ketiga, belum mendesak dan penting. Kemudian yang terakhir adalah belum mendesak dan belum penting.

Sekilas melihat kita pastinya akan memilih ketiga kuadran yang disebut di paling awal.  Dan pastinya adalah kuadran pertama menjadi pilihan pertama untuk dieksekusi. Yang sulit adalah pada kuadran kedua dengan ketiga. Terkadang kita bingung sendiri untuk mendahulukan yang mana dari kedua kondisi tersebut. Karena sewaktu-waktu, hal yang tadinya kurang penting mendadak bisa menjadi sangat penting, dan hal yang belum mendesak sekonyong-konyong saja menjadi begitu mendesak.

Malah, pada kondisi ekstremnya, saya justru pernah tidak mengeksekusi satupun dari hal-hal tersebut — ini yang nantinya akan membuat semua aktivitas kita pada kuadran kedua dan ketiga berpindah semua secara serentak ke kuadran pertama. Seperti yang sudah kita ketahui akhirnya, banyak hal yang akhirnya tidak mampu kita selesaikan. Toh, kalaupun selesai, kualitasnya tidak akan maksimal — kalau tidak mau dibilang setengah-setengah.

Konsep yang seharusnya kita pahami adalah konsep keoptimalan. Dimana kita mampu mengumpulkan fungsi efektif dan efisien pada sebuah aktivitas yang kita lakukan. Sayangnya, butuh banyak berpikir untuk mencapai eksekusi yang menghasilkan performa optimal ini. Tidak jarang pula, kita seperti NATO dimata orang lain bahkan di mata diri sendiri. No Action Talk Only.

Hmm, susah-susah gampang sebenarnya, untuk kompeten dalam menyusun skala prioritas ini. Tidak cukup hanya sekedar mengandalkan ilmu dan pengetahuan semata. Masih banyak faktor-faktor yang menentukan setiap eksekusi yang kita lakukan apakah dapat bernilai optimal — minimal benar. Bahkan kebijaksanaan teramat sangat diperlukan pada berbagai level penentuan eksekusi yang pengaruhnya berpengaruh secara makro dan jangka panjang. Jadi kalau ada slogan yang penting Just Do It! Saya rasa perlu ditambah atau kalau perlu diganti saja menjadi Think First! Rasa-rasanya kita cukup pintar  untuk memilah dan memilih eksekusi-eksekusi mana yang bisa langsung Just Do It! dan mana yang bukan. Semoga.

Caution: Eksekusi yang pengaruhnya berdampak luas dan berjangka panjang, maka memperbaikinya lagi bisa membutuhkan waktu berkali lipatnya. Jadi, masih mau langsung Just Do It! untuk hal-hal yang selayaknya di-Think First-kan dulu?

prioritas

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s