.Periodum.

“By time, Indeed, mankind is in loss. Except for those who have believed and done righteous deeds and advised each other to truth and advised each other to patience..” 
― Al-`Aşr (The Declining Day)

“You may delay, but time will not.” 
― Benjamin Franklin

“The future is something which everyone reaches at the rate of sixty minutes an hour, whatever he does, whoever he is.” 
― C.S. Lewis

Dalam pikir setiap orang, sepertinya pernah terbesit untuk kembali ke masa lalu. Hadir kembali di masa-masa yang pernah dilewatinya, masa-masa dimana momen memilih menjadi penentu masa depannya, yaitu kini. Tidak ada yang salah dengan munculnya pemikiran tersebut, karena itu berarti kita masih memiliki keinginan untuk memperbaiki atau setidaknya meningkatkan yang lebih dari setiap keputusan yang kita telah pilih di masa silam.

Hanya saja yang perlu kita yakini adalah, waktu tidak akan pernah dapat kembali dengan segala penukaran terbaik seperti apapun yang kita miliki. Batas gerak kita adalah hari ini sekarang, atas misteri masa depan yang tak pernah diketahui hingga masa depan tersebut hadir dan kita jalani. Kabar baiknya adalah kita tidak pernah benar-benar sendiri sebagai orang yang tidak pernah tahu atas hal tersebut, ada sekitar 250 juta jiwa di luar sana yang mengalami hal serupa. Persis.

Masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Selalu menjadi hal menarik dari keterhubungan dan keberlangsungan. Masa lalu dulunya adalah masa depan, masa sekarang akan menjadi masa lalu, dan masa depan akan hadir sebagai masa sekarang. Siklus ini yang membagi waktu ke dalam tiga wujud tersebut. Dan kita selalu saja, senantiasa berinteraksi pada ketiga wujud yang terus menerus berubah tersebut.

Waktu. Tak pernah lekang oleh dirinya sendiri. Dijumpa dalam literasi, dihitung sebagai substansi oleh para akademisi, disampaikan dalam berbagai narasi oleh para da’i. Waktu,  entah dinilai sebagai sebuah kerelatifan, entah sebagai komponen pengubah profit berjangka hingga menjadi firman pembuka atas sumpah Tuhan dengan waktu sebagai makhluk-Nya.

Keinginan kita kembali pada wujud waktu yang telah lewat adalah motivasi memperbaiki. Melanjutkan kekejian pengandaian yang dibisikkan setan kepada diri, ketimbang memuhasabahi diri untuk mengerjakan apa yang bisa dilakukan kini, sekarang. Sebab, hanya di ranah kekinianlah hak Allah diberikan kepada jiwa-jiwa yang hidup. Bukan sekadar menyesal, berandai dan malah justru harus menyesal lagi.

Sayangnya, mata kita kini terlalu enggan untuk dibuka. Untuk memaui membaca, melihat dan belajar dalam menambah ruang penglihatan kita yang tidak pernah bertambah sudutnya.  Kita, pada berbagai kondisinya kini, selalu saja merasa cukup atas ilmu, pengetahuan dan kebijakan yang itu-itu saja, tidak bertambah, malah bisa jadi justru tergerus. Dan kita lebih memilih enggan.

Ah, sepertinya sudah terlalu klise jika harus menggunakan alasan rutinitas dan keadaan pada apa yang terjadi pada diri. Tentu saja itu bukan masalah kita saja bukan, begitu pula dengan 250 jiwa juta di luar sana. Lalu apakah mereka lantas diam juga, tidak merubah keadaan diri mereka. Rasanya tidak, apa kita sudah lupa sejarah dan literasi telah mencatat setiap perubahan peradaban kemanusiaan sepanjang kehidupan dimulai. Jika enggan, apa bedanya diri ini dengan tubuh tanpa jiwa, hampa, tak berdaya.

Ah, tentu saja masih ada alasan lupa dan tidak tahu. Sehingga sabar dan syukur rasa-rasanya tidak perlu sangatlah untuk diingat apalagi dikerjakan. Masih ada hal-hal yang lain lebih penting yang malah mungkin kita justru diam dan tak perlu peduli. Tentu saja jika kita tidak lupa bahwa nikmat-nikmat yang tengah kita jalani akan ditanyai pertanggungjawabannya, tak terkecuali tak terlewati.

Hingga tibalah pada sebuah titik, dimana sesal tiada berguna. Dan hanya usaha yang dilipatkan dua, tiga hingga berkali-kali lipat untuk memperbaikinya di masa kini. Sekarang.

147521385

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s