Memasuki Zona Nyaman [Lagi]

Melihat track perjalanan 9 bulan yang telah saya tempuh, sepertinya saya sedang menuju zona nyaman. Karena yang saya jalani sekarang, produktifitasnya tidak lebih besar dibandingkan dengan apa yang saya jalani kemarin-kemarin. Ini seperti buku Aleph karangan Paulo Coelho yang sedang saya baca. Ketika pemain cerita utama mengalami dilema dengan membaca situasi dalam dan luar dirinya.

“Para sarjana meninggalkan universitas dan tidak bisa menemukan pekerjaan. Orang-orang tua pensiun dan nyaris tidak punya apa-apa untuk hidup. Orang-orang dewasa tidak punya waktu untuk bermimpi. Mereka bekerja keras dari jam sembilan sampai jam lima untuk selalu berbenturan dengan apa yang kita sebut ‘kenyataan pahit’. 

“Dunia tidak pernah sedemikian terpecah seperti sekarang, dengan perang antar-agama, pembantaian ras tertentu, kurangnya rasa hormat terhadap planet ini, krisis-krisi ekonoim, depresi, dan kemiskinan, sedangkan semua orang menginginkan solusi-solusi instan terhadap setidaknya sebagian besar masalah-masalah dunia atau masalah mereka sendiri. Dan semakin kita menuju masa depan, segala sesuatu tampak semakin buram.”

Kelihatannya seperti klise ya? Toh itu peristiwa-peristiwa yang akan selalu berulang dan lebih sering terjadi di luar sana. Lebih baik memenuhi kebutuhan sendiri saja dulu, yang terdekat dan bisa kita lakukan. Sampai di suatu titik, saya merasa ada yang salah dengan pemikiran tersebut, ketika saya merasa terus menerus harus memenuhi keinginan (bukan kebutuhan) diri, semuanya tidak pernah cukup. Ketika nanti saja bergerak untuk orang lain, rasanya tidak pernah ada waktu yang tepat. Akan selalu ada tolerir-tolerir yang hadir memberi alasan untuk tidak bergerak.

Alasan saya sekarang enggan untuk memiliki mimpi-mimpi besar yang muluk adalah karena kekecewaan diri. Kekecewaan diri atas ketidakmampuan  menyicil aksi untuk mewujudkan hal tersebut alih-alih membenci keadaan pun orang lain. Tapi, saya merasa harus berbuat sesuatu, terlalu banyak bacaan di buku dan lingkungan untuk saya hiraukan untuk dibilang kebetulan. Hanya saja sebelum saya mencoba mengambil peran perbaikan di luar diri saya. Pertama-tama yang harus saya lakukan adalah perbaikan-perbaikan dari diri ini. Keluar dari zona nyaman ini. Mengambil buku, mengolah dengan pengalaman serta mengoptimalkan kemampuan diri semaksimal mungkin. Lalu menularkannya.

… Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya…” (QS 65:2-3)

Advertisements

2 responses to “Memasuki Zona Nyaman [Lagi]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s