Refleksi Berkendara: Nganter Adik ke Sekolah

Pagi ini, seperti biasanya, saya mengantar adik ke Sekolah. Sekolahnya dibilangan Matoa, durasi perjalanan berangkat sekitar 15 menit. Jarak tempuh yang dekat sebenarnya, apalagi kalau berangkat menggunakan kendaraan umum, seharusnya terjangkau dari segi jarak, waktu dan biaya. Pertanyaannya sekarang, kenapa harus saya antar?

Karena, akses masuk ke Sekolahnya yang serba tanggung! Mulai dari keluar rumah sampai ke Sekolah adik saya. Dengan menggunakan kendaraan umum, maka bisa tiga kali ganti kendaraan, yang pertama dan kedua menggunakan angkot, terakhir dengan ojek. Benar-benar tidak efisien! Padahal dengan jarak yang sebenarnya bisa dibilang dekat.

Ini berbanding terbalik sekali dengan ketika dulu Saya bersekolah di SMP bilangan Mampang, Jakarta Selatan. Dengan durasi tempuh hampir satu jam. Saya hanya perlu menggunakan satu kali kendaraan, atau dua kali jika ingin lebih cepat lagi. Jauh lebih mudah dan hemat dibandingkan dengan jarak yang dekat sekalipun.

driving

Persoalan transportasi. lagi-lagi menjadi permasalahan panjang tanpa ada alternatif yang solutif, kian tak kunjung selesai — seperti lingkaran setan, disitu-situ saja. Sebetulnya bukan tidak mungkin permasalahan akan benar-benar hilang. Karena transportasi adalah ruang lingkup sistem dinamis, yang dalam artian terus terkait dan bergerak, maka akan ada saja terus permasalahannya.

Memang idealnya, begitu ada permasalahan yang baru, permasalahan yang lama setidaknya teratasi — paling tidak “sedikit” teratasi. Tidak hanya bertumpuk (overlap) dengan permasalahan baru yang muncul, hanya tumpang tindih masalah yang masih-masih itu juga. Istilahnya susah move on ( baik dalam artian sebenernya kondisi jalan).

Persoalan ini, sekali lagi, tidak jauh dari masalah mindset. Pola pikir yang tertanam di masyarakat adalah apa-apanya langsung ‘Just do it!’ Lakukan saja dulu. Kalau dalam pelajaran dan berwirausaha, yang istilahnya bisa trial and error dalam durasi waktu yang cukup pendek untuk direpetisi sih tidak masalah — mengingat sistem transportasi yang efeknya adalah luas dan berjangka panjang. Tapi kalau menyangkut hal yang berkelanjutan, seperti persoalan transportasi, berefek luas dan lama dalam sebuah sistem kemudian juga dilakukan secara kolektif, maka ini bisa menjadi benar-benar masalah yang benar-benar besar.

moving

Kemudahan bergerak dan berpindah, membuat sebagian banyak orang untuk sedikit berpikir dan meluangkan waktunya untuk menilai pergerakannya tersebut penting atau tidak, mendesak atau tidak. Jika ingin ke tempat A, tinggal menyalakan kendaraan dan berangkat. Masalah perlu banget atau tidak urusan gimana nantinya sajalah, bukan nanti gimana? Sehingga pergerakannya di jalan tidak optimal hanya menjadi beban bagi jalan dan lalu lintas kalau tidak mau dibilang mubazir.

Oleh karena itu, think first harus didahulukan ketimbang just do it! dalam kasus ini. Pola pikir harus disesuaikan, bukan bermaksud untuk sekonyong-konyong diganti sepenuhnya atau digeser seutuhnyar. Syukur-syukur kita mampu berpartisipasi dalam mengurangi beban jalan yang terjadi, ketimbang hanya menyalahkan pemerintah saja apalagi ngedumel tidak jelas menyalahkan apa dan atau siapa. Seperti hadis arbain pertama, mari kita mengecek niat kita kembali. Memperjelas niat dalam setiap pergerakan (berkendaraan) kita.

Selamat beraktifitas! 😀
Temanmu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s