#semangatberkelanjutan

Waktu tidak pernah menunggu, tidak pula lebih cepat, pun lebih lambat. Sudah selayaknya kita sadar atas keberlanjutan diri sebagai manusia, sebagai pemimpin minimal bagi dirinya sendiri. Ada hal sebagai manusia yang tidak boleh hilang dari dirinya meski hanya sebentar saja. Bukan makanan, karena manusia masih bisa menahan lapar untuk beberapa hari, bukan minuman, karena manusia masih bisa menahan haus untuk beberapa jam. Lalu, apa yang tidak boleh hilang itu? Adalah harapan, bisa dibayangkan jika manusia telah kehilangan harapan seperti harapan hidup dalam 5 detik hidupnya?

Seiring waktu, banyak hal yang harusnya bisa kita perbaharui dan perbaiki dari segala kegiatan yang kita jalani. Ada pemenuhan kebutuhan dasar di tiap-tiap diri manusia yang harus dipenuhi dalam keberlanjutannya tersebut. Pemenuhan dari asupan tubuh atas makanan dan berolahraga, asupan akal atas ilmu dan pengetahuan, serta asupan ruh dan hati atas amal baik dan mengingat Allah.

“Dia (Allah SWT) menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.” [AlQur’an 45:13]

Pada perjalanannya, akan ada momen-momen waktu dimana kemalasan menghadang, kebodohan menantang dan jumawa membayang. Padahal, sebagai manusia kita memiliki jatah hidup terbatas dengan kepentingan dan amanah yang banyak, jika apa yang kita kerjakan tidak benar dan atau optimal, bukankah itu hanya akan menjadi sia-sia? Layaknya debu yang ditiup angin.

Maka pada tiap kesempatannya, kita harus membaca secara berkelanjutan. Memperbaharui keilmuan dan keberpengetahuan kita, kita waktu dan ruang selalu bergerak. Kita tidak akan pernah cukup jika hanya merasa cukup dan mumpuni pada akal yang diam, enggan membaca, enggan menyimak. Seperti pada setiap amalan kita, terus menerus memperbaharui niat.

Tantangan terberat lainnya kerap kali ada kejenuhan, maka kreatifitaslah yang harus kita pakai. Dengan menghadirkan kebaruan-kebaruan cara dan objek pada apa yang kita baca, maka jiwa dan akal akan merasa senang untuk bersemangat mencari, menggali dan menyelami karena memang begitulah fitrahnya.

Setelah diri memiliki input (masukan), maka secara fitrah ada sistem yang bekerja untuk menghasilkan result (hasil) dari proses output (keluaran). Maka setelah perintah “Bacalah!” tentu tanpa perlu disuruh secara langsung kita juga diperintahkan untuk “Tulislah!”. Wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s