Why Palestine?

8696_479087492169292_1337681268_n

Why Palestine? Kenapa Palestina?

Diskusi Rutin SPACE (Salam Palestine Center)

Oleh: Muhammad Iqbal

“We know to well that our freedom is incomplete without freedom of the Palestinians.”

— Nelson Mandela

Bukan lagi hal baru, memang, ketika isu Palestina kembali dibicarakan. Sudah begitu lama permasalahan yang menimpa  bangsa Palestina tak kunjung usai, berikut tragedi pembantaian terhadap warganya, penjarahan besar-besaran wilayah oleh Imigran Yahudi, sampai perjuangan memperoleh kemerdekaan dan kedaulatan sebagai Negara. Sudah hampir 65 tahun persoalan ini bergejolak, dimana kita bisa mencoba menyederhanakannya sebagai konflik Israel-Palestina, dan belum akan menunjukkan sebuah penyelesaian yang konklusif, khususnya bagi bangsa Palestina.

Setiap persoalan, sejatinya selalu memiliki sebab-musabab yang mengawali semuanya. Sama halnya, setiap alasan didasari atas sebuah landasan berpikir — tak peduli itu logika ataupun emosi semata, karena ideologi ataupun sekadar empati. Titik persoalan ini mencuat saat berdirinya sebuah Negara kecil yang — sampai saat ini tidak pernah diakui oleh Indonesia, dan tidak akan pernah, Insyaallah — bernama Israel Raya 1948 silam.

Menarik pula jika melihat benang merah persoalan ini dari saat kekhalifahan Islam terakhir (Turki Usmani) — yang saati itu terpusat di wialayah Turki sekarang — dijatuhkan dan diruntuhkan dalam sebuah konspirasi terbesar abad 20: Perang Dunia. Saat itu, wilayah Palestina berada dalam kekuasaan TurkiUsmani dan atas dasar itu pula, mengapa Turki begitu babak belur dipermainkan selama perang dunia.

Korelasi terpenting dari semua itu adalah bahwa wilayah Palestina telah lama menjadi incaran bagi bangsa Yahudi. Tekenal sebagai bangsa yang terusir — atau tepatnya bangsa yang tidak memiliki kampung halaman, menjadi alasan yang mendorong mereka melakukan berbgai cara untukmendapatkan hal itu. Bahkan, usaha ini sudah pernah dilakukan ratusan tahun yang lalu dalam sebuah peristiwa bersejarah: Perang Salib. Lantas, mengapa wilayah Palestina yang dituju? Adakah sesuatu yang menjadi milik mereka disana? Tidak, tentu saja tidak ada. Tidak ada satupun bukti peninggalan yang menunjukkan bahwa tanah bangsa Palestina — tentu saja yang sekarang dicaplok oleh Israel — tersebut sepatutnya menjadi milik bangsa Yahudi. Haikal Sulaiman, atau lebih dikenal Solomon’s Temple yang merupakan kuil peribadatan bangsa Yahudi dikatakan — konon — terkubur di bawah bangunan masjid Al-Aqsha, Yerusallem. Bangunan itu sejatinya sudah hancur dan memang ditakdirkan hancur oleh sejarah. Dua kali dibangun ulang, dan dua kali diporakporandakan. Pertama, oleh bangsa Persia, dan yang kedua bangsa Romawi (kuno). Apakah kemudian bangsa Yahudi berhak mengklaim bahwa mereka merupakan bangsa asli di wilayah tersebut? Tentu tidak! Karena bangsa Yahudi adalah bangsa pendatang. Bahkan bangsa Palestina yang kinipun bukanlah bangsa asli wilaya tersebut. Hanya saja, bangsa Palestina telah terlebih dahulu menetap di wilayah tersebut, sampai hari ini.

Kenyataannya, semua yang telah dilakukan merupakan sebuah rencana besar, yang sudah tersusun rapi, sedemikian rupa oleh orang-orang (bangsa Yahudi) yang meyakini tindakan merebut wilayah Palestina tersebut sebagai bentuk pengabdian kepada sesuatu yang diyakininya. Itulah yang mendasari setiap ‘kejahatan’ yang dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina, atas suatu hal berupa ideologi. Tidak heran pula, kenapa pada akhirnya konflik ini terus berkepanjangan, karena bagi Israel sendiri setiap perjuangan Palestina merupakan kekhawatiran atas keberhasilan aksi perampokan wilayah besar-besaran dari bangsa Palestina, disebabkan adanya kekhawatiran untuk kembali menjadi bangsa yang terusir. Segala hal akan mereka lakukan, demi mempertahankan wilayah ‘rampokan’ itu.

***

Cara pandang tidak harus satu, begitupula dalam melihat dan memahami konflik Israel-Palestina. Konflik ini tidak hanya dapat dilihat dari satu sudut pandang. Ketika mengangkat suara mendukung aksi Palestina, banyak sisi lain yang bisa ditempuh, — tidak hanya sejarah — dari perspektif hukum dan HAM (Hak Asasi Manusia), Politik dan kebijakan termasuk sisi kemanusiaan.

Ditinjau dari sudut pandang Hukum dan HAM dapat dilihat begitu banyaknya kejahatan yang telah dilakukan Israel terhadap Palestina. Sudah berapa banyak peristiwa pembantaian terhadapa warga Palestina yang dilakukan. Sudah berapa pula nyawa-nyawa tak berdosa melayang begitu saja. Dan lhat, tak ada sedikitpun muncul rasa bersalah dari tentara-tentara Israel biadab itu.

Secara universal, naluri seorang manusia pun sepatutnya sadar dan tahu bahwa Tuhan telah menitipkan perasaan pada segumpal daging dalam tubuh mereka agar mereka saling peduli dan saling berbelas-kasih. Siapa yang tidak terpanggil hatinya melihat ratusan rumah warga hancur, porak-poranda hingga rata dengan tanah akibat serangan rudal tentara Israel. Siapa pula yang tak terenyuh hatinya menyaksikan anak-anak kecil tak berdosa mati diberondong peluru-peluru tentara Israel. Manusia bisa saja tidak lagi memiliki perasaan ketika telah buta mata hatinya, dan itu yang terjadi pada tentara-tentara (terkutuklah mereka!).

Barangkali tepat pula sebuah ungkapan dari seorang penyair muda,

“Terkadang, bukan singa buas di hutan belantara yang patut kau takuti, tapi singa buas bersosok layaknya manusia yan perlu kau waspadai.”

Tidak salah ketika akhirnya panggilan hati umat manusia seantero dunia menyerukan dukungan terhadap Palestina. Tanpa mengenal umur, jenis kelamin, ras, suku bangsa, ataupun agama, karena ketika panggilan hati telah menyaksikan sebuah tragedi anti-kemanusiaan yang menimpa bangsa Palestina. Masih ingat Rachel Corrie, seorang Mahasiswi asalah Amerika Serikat, yang mati dilindas bulldozer demi usahanya menahan usaha tentara Israel menghancurkan permukiman warga Palestina, enam tahun yang lalu? Dunia tidak melihat siapa dia, tapi ia telah dikenang sebagai seorang aktivis kemanusiaan yang rela mempertaruhkan nyawanya untuk perjuangan Palestina. Karena itu pula, tak salah menyebut mereka sebagai saudara, mungkin bukan hubungan darah, tetapi karena mereka juga manusia seperti kita.

Di atas semua alasan itu, ada satu alasan yang tidak kalah penting — dan seharusnya menjadi alasan utama — untuk mendukung Palestina. Ketika berbidara sebagai seorang muslim, maka tidak ada alasan untuk mengatakan “tidak” terhadap perjuangan Palestina. Bahwa salah satu tempat suci umat muslim di dunia ada di bawah cengkraman kekuasaan Israel — yang notabene secara jelas dan meyakinkan sikap antipatinya terhadap Islam. Masjid Al-Aqsha, tempat ibadah yang sama suci dan sama mulianya dengan Masjid Haram di Makkah, adalah tempat kiblat pertama umat muslim. Betul, bukan orangnya yang menjadi persoalan, melainkan sifat dan sikap mereka yang menjadi alasan kebencian, sama halnya seorang muslim membenci kemunkaran. Namun, perhatikanlah bahwa bangsa Yahudi telah disebut dalam Al-Qur’an sebagai bangsa yang mengingkari nabi dan tuhannya, bahkan tidak masalah membunuh nabi ataupun mengarang kita ajaran sendiri.

“Maka kecelakaan yang besarlah, bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab, dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: ‘Ini dari Allah’, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit, dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. 2:79)

Entitas dan Identitas sebagai seorang muslim yang selayaknya menjadi muslim yang utuh, menyeluruh baik secara pemahaman maupun sikap, dibuktikan dalam bagaimana ara kita bereaksi terhadap konflik ini. Sudah tidak ada pilihan lagi, selain menyatakan sikap sepenuhnya secara bulat dan meyakinkan bahwa Palestina harus selalu dibela. Karena Islam, telah terlebih dahulu mengikat hati ini dengan hati para saudara muslim di Palestina, yang selalu berjuang — tidak hanya untuk tanah mereka namun — untuk agama ini.

Indonesia, dengan tipikal masyarakat yang beragam, hidup dengan nilai-nilai luhur agama dan moral sudah sepatutnya menunjukkan atensi dan kontribusi yang sepenuh hati terhadap perjuangan Palestina. Sikap dan perjuangan pemerintah Indonesia terhadap Palestina perlu diapresiasi khususnya dalam resolusi PBB akhir tahun 2012 lalu sebagai Non-Permanent Observer State. Bukan berarti perjuangan sudah berakhir, kemerdekaan Palestina harus didapatkan dalam bentuk yang hakiki sebagaimana halnya sebuah Negara dalam konsepsi Negara oleh seorang George Jellinek: 1) Wilayah; 2)Penduduk; 3)Pemerintahan yang berdaulat; dan 4)Pengakuan dari Negara lain. Tentunya, sesuai pula dengan Negara yang sejatinya diinginkan oleh bangsa Palestina sendiri. Merdeka, berdaulat seperti apa yang tertera dalam preambule Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

Disamping itu, melihat dari sisi masyarakat Indonesia jelas bahwa kita punya kontribusi yang jauh lebih besar untuk diberika. Potensi yang luar biasa besarnya itu dapat disalurkan melalui berbagai kegiatan sosial dan propanda yang bersifat informatif. Dan selama satu dekade terakhir, masyarakat Indonesia sudah menunjukkan partisipasinya melalui aksi-aksi konkrit di seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari institusi semisal LSM, maupun organisasi mahasiswa, dan termasuk institusi-institusi lainnya telah sama-sama berbondong-bondong melakukan kegiatan-kegiatan semisal kegiatan penggalangan dana, seminar pencerdasan, dan banyak hal lainnya.

Dan, oleh sebab itu, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap Palestina, Nuansa Islam Mahasiswa Universitas Indonesia (SALAM UI) bekerjasama dengan Komiten Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) akan menyelenggarakan kegiatan Konser Amal Peduli Palestina (Charity Concert for Palestine), yang akan diadakan pada tanggal 4 Mei 2013 dalam rangkaian acara UI-Islamic Book Fair dengan menghadirkan Fadli-PADI, IZZATUL ISLAM dan dr. Muchoddam Kholil.

Good deeds do not need any reasons, ever. As long as you are still a human,  you do not have any reasons to refuse, ever.” NN

———————————————————————————————————————

Diketik ulang dari selembaran yang dibagikan ketika acara seminar ini berlangsung, oiya ada satu kutipan bagus yang saya catat berkenaan dengan tema acara ini, “Learn and know-how, then you’ll realize what your reason.” NN

———————————————————————————————————————

Dokumentasi yang saya ambil:

IMG_0310

IMG_0328

IMG_0320

IMG_0323

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s