Harapan Masa Depan

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Al Bayyinah: 7-8)

IMG_3431

Harapan adalah kebutuhan setiap manusia yang harus senantiasa dimiliki setiap manusia. Dimiliki pada setiap hembusan nafasnya, pada setiap detak jantungnya. Manusia masih bisa hidup tanpa makanan, udara, minum dan lainnya dalam jangka waktu tertentu. Tapi, tanpa adanya harapan, tak ada alasan diri untuk tetap mau hidup, bergerak, bekerja atau menjalani apapun yang tengah kini dihadapi.

Kadar harapan yang kadang naik terlebih sering turun, menuntut hari-hari kita untuk mendongkraknya terus setiap harinya. Agar terus dapat mampu bergerak, agar kelak mampu menggerakan. Harapan adalah sebuah kedinamisan yang senantiasa bertransformasi. Pada akhirnya, harapan turut menuntut nalar dan akal sehat kita. Sebab, pada tingkat ekstremnya kita diharuskan siap menghadapi kekecewaan pada harapan kita yang terlalu berlebih.

Jika dimungkinkan, salah satu alternatif adalah memiliki banyak harapan, yang tidak hanya berfokus pada satu harapan saja secara berlebihan — jika harapan ini adalah harapan-harapan semu dunia. Lain halnya jika diri mampu menempatkan porsi harapan satu-satunya pada Sang Pemberi Harapan Pasti, maka kekecewaan pada Pemberi Harapan Palsu — manusia pun dunia — tak perlu kita khawatirkan lagi ke depannya. Mari kita sebut ini sebagai strategi pengharapan.

IMG_6603

 

Mungkin, yang terlebih berat — jika tidak bisa dibilang mudah — adalah bagaimana mempertahankan harapan itu sendiri, agar mampu bertahan secara berkelanjutan (sustainable) dengan senantiasa memohon ihdinas siratal mustaqim — tunjukilah kami jalan yang lurus. Agar insyaallah, eksistensi perjuangan diri dapat diupayakan bertahan lebih lama. Seperti William Shakespeare pernah ungkapkan: “Kunci sukses adalah tahu lebih banyak dari orang lain, berusaha lebih keras dari orang lain, dan berharap lebih sedikit dari orang lain.” Setelah mengetahui peranan harapan, kita tahu bahwa dia tidak perlu terlalu banyak ketimbang pengetahuan dan kerja keras kita.

Tidak terlepas dari tujuan utama setiap manusia adalah beribadah, maka seharusnya tujuan mulia ini mampu berbentuk dalam berbagai bentuk penghambaan yang semestinya. Pada setiap kadar yang telah ditentukan pada masing-masing diri, sudah tentu putus asa harusnya  kita rasakan juga sebagai lelah yang merupakan keniscayaan yang juga akan berlalu —  these too will pass. Maka yang patut kita perjuangan adalah synergi pada harapan itu, agar mampu menjadi keharmonian kerja nyata.

IMG_1778

Maka kelak muara dari harapan ini, akan mampu mengantarkan setiap diri pun kelompok untuk melaksanakan tantangan yang Allah sayembarakan pada melalui ayat-Nya: “Maka berlomba-lombalah dalam melakukan kebaikan di mana saja kamu berada” (QS Al-Baqarah: 148). Fitrah kita untuk berkompetisi, maka pengejawantahannya perlu senantiasa dengan kerendahan hati untuk meminta jalan yang lurus — ihdinas siratal mustaqim.

 

Tidak ringan memang, tapi juga bukan berarti tidak mampu untuk dikerjakan, sebab ada parameter kesanggupan yang Allah berikan pada masing-masing diri. Hingga pada setiap ikhtiar yang telah dilakukan, bertawakal pada hasil akhirnya adalah bentuk keimanan tersendiri. Maka teruslah berharap, banyaklah bekerja nan berpikir. Lalu perjuangkanlah.

Advertisements

One response to “Harapan Masa Depan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s