Wahai Diri, Bertumbuhlah!

Menghadirkan bukanlah perkara diri, menghadirkan adalah perkara yang telah Allah atur untuk setiap diri. Pun menghadirkan hasil bukan urusan diri untuk menentukan melainkan pada proses-proseslah upaya-upaya yang wajib kita kerjakan. Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan.

Pada setiap upaya yang kita kerjakan, menyadari berproses itu sendiri penting untuk dilakukan. Agar kelak ketika diri telah sampai pada sebuah ujung bagian jalan yang harus ditempuh, bukan sebuah kejutan alih-alih sesal yang harus dihadapi. “Hah, tahu-tahu sudah begini saja!”. “Ah, kenapa kemarin tidak begini..atau begitu saja..”. Apakah tidak pernah sampai sebuah pesan Nabi melalui riwayat yang shahih, “Ketahuilah bahwa apa yang akan menimpamu tidak akan pernah luput dan apa yang tidak akan menimpamu tidak akan pernah menimpamu.”

Upaya diri dengan diri yang lain ada yang sama dan tak jarang berbeda. Sebab diri dianugerahi potensinya masing-masing. Sebab hati memiliki kecenderungan kesenangannya sendiri. Dan bukanlah Allah telah pula menerangkan: “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya”.

Meski pada situasi nyata di sistem sosial yang harus dijalani, pandangan masyarakat yang begitu mendominasi terlebih sering mengubur potensi kecerdasan pada tiap-tiap diri, yang begitu kaya, yang begitu beragam. Asumsi kolektif yang tak berdasar semata atau memang sebuah rekayasa?

[Maka pernah kuberkata pada diri suatu hari:

“Wahai diri, tetaplah bertumbuhlah dalam sesak, agar kelak kita tak menyesal menjadi hamba yang berpikir.

Wahai diri, selalu dampingi atas apa yang telah diberi, agar kelak kita tak dibilang orang yang merugi.

Wahai diri, meski sunyi, sulit, kelak pada masanya banyak penyendiri yang bersinggungan takdirnya untuk mengisi.”]

Tentu saja pada perjalanannya, gelisah yang menyeruak tak mampu dibendung. Cemas dan khawatir atas apa yang ada di ujung jalan menambah ketakutan seiring waktu. Menjadikan diri seakan-akan tidak pernah mengenal harapan saja, padahal bukanlah berkali-kali pertolongan Allah senantiasa hadir pada setiap khawatir dan takut diri yang tak pernah berdasar. Maka, selama apa yang dijalani diri selalu pada koridor ketakwaan, kenapa tidak dijalani saja panggilan rasa senang yang terbimbing?

“Dan, sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Kesadaran menjadikan apa yang kita jalani setiap detiknya menjadi bermakna. Pengingat atas tujuan utama adalah beribadah harusnya mampu menjadikannya tereplikasi. Melalui amal-amal nyata berbagai rupa yang mampu memenuhi kesenangan jiwa.  Meski — sekali lagi — pada keadaan nyata yang ada (atau memang diada-ada?) adalah dominasi mayoritas. Dominasi — yang sayangnya — memaksa penyeragaman kecerdasan, penggerusan ragam bakat diri, mengikis habis potensi, dengan dalih demi masa depan diri.

Sehingga tidak menjadikan seorang Angelo Battero (penulis yang tidak kurang menulis 30-an buku dan ribuan artikel tentang mendidik anak) untuk diam dan justru berkata, “Tidak ada orang-orang yang paling menderita melebihi orang yang tumbuh dan tidak menjadi dirinya sendiri, tumbuh tidak menjadi jasadnya sendiri, dan tidak menjadi pikirannya sendiri.”

Dengan kepastian yang bersungguh, Allah akan memberikan cobaan melalui ketakutan yang salah satunya adalah jiwa. Maka kenapa tidak, pertumbuhan potensi diri menjadi satu hal yang harus tiap diri untuk perjuangkan? Sebab entah pada akhirnya potensi tersebut tumbuh menjulang atau gugur mengerdil bukan hasilnya yang harus tiap diri khawatirkan. Melainkan upaya pada proses setiap langkah perjalanannya, untuk berbeda, untuk merdeka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s