Pesona Sejuta Warna: Sawarna

…sembari meninggalkan jejak-jejak langkah sepanjang pantai yang sungguh menawan, telah dengan sangat sempurna membangkitkan raison d’être seorang manusia yang seutuhnya.”

“Yang dari Jakarta ya? yang mau nginap di homestay Tanjung Layar?” tanya seorang pria ketika mobil belum lama di parkir begitu tiba di Desa Sawarna. Tampak terlihat ragu untuk mengiyakan, dia memastikan lagi dengan berkata, “yang tadi udah nelpon sama Pak Drajat?. “Oh iya, bener” balasan atas pertanyaan yang sekonyong-konyong diajukan dari pria yang daritadi wajahnya belum tampak begitu jelas karena suasana  gelap masih menyelimuti tempat ini seraya jam masih menunjukkan pukul 5 pagi. “Mari saya antar langsung ke homestay-nya Pak Drajat” lekasnya.

Sawarna. Sebuah desa yang terletak di sebelah selatan Kota Sukabumi, telah menjadi salah satu tempat tujuan wisata yang paling diminati bagi banyak orang yang bermukim di Jakarta, Bogor, Tangerang dan sekitarnya. Objek pariwisata yang sedang ramai dibicarakan oleh orang-orang melalui sejumlah media ini tak pelak telah menjadi trend rekomendasi destinasi wisata yang ditunggu-tunggu. Selain tulisan serta foto yang menunjukan penampakan alam dari pantai, gua, serta sawah yang mempesona, rute yang mudah diakses menjadi pertimbangan besar bagi para calon wisatawan yang hendak melancong, mengisi waktu liburannya.

Sawarna di Kejauhan

Tak perlu lama berpindah dari parkiran kendaraan menuju homestay tempat menginap selama menghabiskan pekan liburan disini, hanya sekitar 15 menit dengan berjalan kaki. Suasana sejuk subuh masih menyelimuti kampung yang begitu tenang ini, dengan sesekali suara demburan ombak yang samar-sayup terdengar dari kejauhan sampai di telinga. Menyeberangi jembatan gantung yang membuat para penyebrang harus deg-degan dan sedikit berteriak sembari terus-menerus menjaga keseimbangan badannya masing-masing meniti jembatan yang hanya selebar 1,5. Menjadikan awal perjalanan ini akan terekam baik oleh seluruh panca indera yang kita miliki. Pun suara segerombolan jangkrik telah menanti di hamparan sawah yang berada di sisi-sisi kanan dan kiri jalan setapak, begitu kita berhasil melintas jembatan akses pintu utama desa, yang begitu kontras menghasilkan guratan-guratan senyum pada raut muka yang hampir saja pucat pasi, lintasa jembatan yang seakan-akan menyambut “Welcome to Sawarna“.

Adalah Mas Gugun yang menyambut di parkiran tadi, pria ramah kelahiran 82 yang menjemput dan mengantar kami sampai di Tanjung Layar Resort. Nantinya, Mas Gugun ini juga yang akan menjadi guide perjalanan kami untuk dua tempat wisata di hari terakhir petualangan ini: Legon Pari dan Goa Lalay. Selama perjalanan dari parkiran hingga homestay, Mas Gugun dengan baiknya menjawab setiap pertanyaan mengenai seluk beluk Desa Sawarna yang saya ajukan . Begitu sampai di homestay, seorang pria paruh baya, yang telah diterka sebelumnya bernama Pak Drajat yang bernama lengkap Sudrajat menyambut dengan hangat, menyilakan untuk beristirahat di kamar yang telah disiapkan. Tak perlu lama untuk bersiap dari homestay untuk kemudian menyusuri jalan menuju Pantai Ciantir berbarengan dengan terbitnya matahari, tempat pertama yang begitu mengesankan, yang mampu melepas penat dan lelah selama 7 jam berkendara lintas provinsi Jakarta-Jawa Barat-Banten.

Pantai Pasir Putih Ciantir

Pantai Pasir Putih Ciantir

Pantai Sawarna yang panjangnya mencapai 65 km terbagi ke dalam beberapa pantai dengan salah satunya bernama Ciantir, pantai ini telah menarik penikmatnya yang mulai berdatangan sepanjang pagi hingga menjelang siang. Sepintas, hamparan pasir putih yang membentang bergaris pantai yang begitu panjang ini mengingatkan dengan Pantai Kuta yang berada di Bali, bedanya disini pengunjungnya tidak sepadat di Pantai Kuta. Setelah puas menyisiri pantai dan bermain dengan ombak, tak ada salahnya mengeluarkan kocek sebesar 6 ribu rupiah saja untuk menikmati buah kelapa muda yang terasa segar seraya melepas lelah dan keringat sebab sinar matahari yang dengan murah hatinya menemani sesiangan.

Sunset Tanjung Layar

Selepas beristirahat siang, tak menyurutkan langkah untuk bersegera melanjutkan ke tempat wisata kedua: Pantai Tanjung Layar. Salah satu spot andalan di Sawarna untuk menyaksikan sunset ini turut menghadirkan dua buah karang yang menjulang tinggi dengan kokoh menghadang, penghalang langsung pantai ini dengan Samudera Hindia. Suara deburan ombak yang terpecah di karang-karang, awan-awan berarak bersama lembayung senja, sembari meninggalkan jejak-jejak langkah sepanjang pantai yang sungguh menawan, telah dengan sangat sempurna membangkitkan raison d’être seorang manusia yang seutuhnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s