Sebuah Konsekuensi

Sudah hampir 2 minggu ini rasa-rasanya saya tidak benar-benar blogging dengan’ benar’ di blog ini, alih-alih memenuhi target one post per a day — yang pada akhirnya (juga) tidak benar-benar bisa mem-posting setiap hari. Sebenarnya kalau mau mencari-cari alasan untuk mentolerir diri sendiri sih, bisa-bisa saja. Entah karena sibuk yang berujung pada ketiadaan waktu untuk menyempatkan diri nge-blog, atau karena kelelahan yang berujung pada kehabisan energi bahkan untuk sekedar mengetik!

Ah, memang diri ini saja yang belum becus untuk bisa mengelola diri. Masih saja menyalahkan situasi bin kondisi guna mencipta pembelaan diri. Dan tentu saja ada efek dari ketidakdisiplinan dan ketidakkomitmenan nge-blog ini. Ada harga besar yang telak saya harus bayar: Sulit!

151867487

Yup, baru mau nge-blog saja, saya bahkan sudah bingung mau menulis apa. Setelah mulai menulis (baca: mengetik), sampai pada tulisan ini saya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit untuk 130-an kata. Ini berarti saya hanya menghasilkan 6,5 kata per menit! Benar-benar membuat saya frustasi…

Hal yang sering terjadi ialah begitu banyak tanda tanya dari satu kata ke kata lainnya, dari kalimat ke kalimat berikutnya, dan dari paragraf ke paragraf selanjutnya. Repetisinya berupa jeda-jeda kecil, yang kalau diakumulasikan menjadi keheningan panjang dari menatap layar laptop. Ini baru ditinggal 2 minggu, saya tidak bisa membayangkan kalau terjadi  hingga hitungan bulan atau mungkin tahun.

Simpulan utama dari kasus ini adalah: komitmen adalah tingkat kesulitan selanjutnya setelah memulai. Konsep ini rasa-rasanya berlaku pada berbagai pilihan yang kita pilih, terlepas dari apa yang kita suka atau tidak suka (pada akhirnya). Karena selalu ada konsekuensi yang terpaket dari tiap tindak tanduk  atas apa-apa yang sedang, akan dan belum kita kerjakan. Lain halnya lagi yang juga tak terlepas dari ranah tiap diri kita yakni: berinteraksi.

one piece

Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, interaksi diartikan sebagai berikut: [n] hal saling melakukan aksi, berhubungan, mem-pengaruhi; antarhubungan. Jadi interaksi dikatakan terjadi jika dilakukan saling-, berhubungan (berkomunikasi, terjalin, terhubung), dan atau ada pengaruh yang diterima atau diberikan. Interaksi bisa dilakukan baik diri sendiri ke diri orang lain pun sebaliknya dan bahkan diri sendiri ke diri sendiri. Bahkan bisa jadi, interaksi tidak memerlukan bahwa kita mengenal terlebih dahulu pada objek interaksi kita tersebut.

Dari hal ini, sebenarnya ada yang ingin saya kaitkan pada keistiqomahan menulis di atas. Bahwa pada setiap hubungan entah itu kekerabatan, pertemanan, kolega atau bahkan permusuhan. Interaksi seperti sebuah kemutlakan komitmen pada berbagai jenis hubungan meski pada level perseteruan sekalipun — sekali lagi, meski mengenal atau tidak. Sebab sekalinya ditinggalkan atau di-pending, konsekuensi besar yang wajib dibayar ketika harus memulai lagi adalah: sulit.

249580_1855115615552_193372_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s