Ruang, Waktu Dan Literasi

Terkadang, ketika diri harus menghadapi hari-hari yang penuh tanda tanya, penuh ketidaktahuan akan masa depan yang menyimpan sejuta misterinya untuk bersiap hadir, mengejutkan dengan bermacam rupa beraneka cara. Yang bisa dan harus kita lakukan adalah terus meletakkan harapan di depan mata diri. Tak hanya itu, terus bergerak adalah menjadikan diri sebagai aliran yang terus dinamis berubah, berkembang dan bertumbuh.

Meski pada akhirnya banyak hal yang tidak sesuai harapan yang telah kita letakkan pada awalnya, menambah kepengetahuan diri agar meningkatkan kapasitas diri agar dapat terus memberi kontribusi melalui eksekusi-eksekusi yang tidak hanya teraktual dan terdepan tetapi mampu lebih dari itu.

IMG_0195[1]

Meski sepi dan bingung sering melintas pada tiap-tiap kesempatan-jeda dari hari-hari kita, maka membaca dan menulis menjadi aksi terbaik dari waktu-luang yang hadir tersebut. Sebab tidak sedikit dari orang-orang yang pada akhirnya tertipu pada rutinitas luang alih-alih rutinitas padat — meski bisa saja kondisinya terbalik.

Ruang, waktu dan literasi  selalu menjadi keterikatan pada tiap elemen — apapun itu — dari awal mula hingga akhir, pada setiap celah-celah tempat dimanapun pada berbagai bentuk bacaan atas situasi dan kondisi. Tapi, tentu saja hal-hal yang begitu penting, selalu diperebutkan kendali atasnya, selalu diupayakan untuk mendapatkannya dengan sebagian membohongi yang lain melalui berupa cara beraneka pura, agar kelak diri atau golongannya yang dapat lebih unggul, lebih maju.

IMG_0292[1]

This place is a word world. Disini adalah dunia kata, dimana kata memegang peranan penting dalam menjalankan hidup. Sebab kata, manusia yang tersebar dapat berhimpun serta memiliki cara pandang sama. Karena kata, ribuan orang bisa tergerak tanah yang dulu tandus menjadi sebuah peradaban hebat, tanah yang lapang menjadi kota-kota hebat. Melalui kata, bacaan terbentuk, hukum tercipta, teknologi berkembang yang bermuara pada jarak dan waktu menjadi penghalang yang sederhana.

Pada akhirnya, kita mau tidak mau  harus sadar atau disadarkan  bahwa — cepat atau lambat —  diri telah — telah, sedang dan akan — dijebak melalui paradigma “ketidakpentingan” akan ruang, waktu dan literasi melalui ekspansi pergulatan memenuhi kebutuhan dasar hidup atas pangan, papan dan sandang yang entah seperti tidak ada pernah ada habis dan puasnya yang telas jelas nyata “selalu” berhasil untuk memenuhi setiap jengkal ruang pikir diri.

Untukmu Geografi, Sejarah dan Sastra. Yang (hampir) selalu menjadi pilihan kedua, dari unsur penting utama dari tonggak-tonggak peradaban maju dimanapun, kapanpun pada bentuk tulisan-tulisan yang menjadi penerus sepeninggalan dari pembelajaran orang-orang, peristiwa ataupun teknologi.

IMG_0536[1]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s