Straighten Your Saff Please!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu mengusap
bahu-bahu kami dalam shalat (ketika akan shalat) dan menyatakan:
“Luruskan dan janganlah shaf kalian bengkok sehingga berakibat hati kalian berselisih.”
(HR Muslim)

Pentingnya meluruskan dan merapatkan dalam barisan terutama shaf dalam shalat, mendapat perhatian penting dari nabi kita, Rasul kita. Sebab dari kedekatan fisik dan rapihnya barisan, ternyata mampu menghantarkan pada kedekatan hati dan mengukuhkan himpunan, pun juga sebaliknya.

78055_4311598466088_1833096523_o

Tapi dengan kecenderungan ego atau gengsi, kita lebih sering berpikir, “yasudah dia saja yang merapat” atau “dia dong yang harus ngelurusin dengan posisi berdiri saya” dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.  Sampai tiba waktunya takbiratul ihram dimulai, tak kunjung juga shaf menjadi rapat dan rapih alih-alih lurus. Ya, mungkin karena mengganggap bahwa shalat berjamah hanya milik sendiri, atau hanya milik dia. Ketimbang menjadikan shalat berjamah menjadi milik bersama.

Toh, buat apa-apa repot saya yang harus bergeser untuk merapat, saya yang harus celingak-celinguk ke kanan dan kiri untuk “sekadar” meluruskan diri. Kalo juga nantinya ada orang yang nggak peduli mau lurus atau tidak, mau rapat atau tidak, bahkan ketika merapat justru orang yang disebelah malah semakin bergeser, semakin menjauh. Entah belum paham, atau justru enggan. Semoga saja memang belum paham, semoga saja akan paham.

176617_4311595906024_95162342_o

Dalam dunia baris-berbaris yang saya geluti semenjak berseragam putih abu-abu — sampai sekarang ini. Pentingnya menjaga harmoni dari banjar dan shaf dalam sebuah pasukan menjadi perhatian penting yang selalu menjadi perhatian khusus dan penting. Berulang kali, setiap saat — pada setiap kesempatan (diteriak atau dibisiki) — terus dan menerus hingga meluruskan banjar dan shaf menjadi mindset terpenting dalam sebuah barisan. Sampai-sampai menjadi lirik dari sebuah lagu mars yang selalu dinyanyikan setiap lari pagi: “banjar dan shafnya harus diluruskan!”

Menjaga kerapihan banjar, menjaga kelurusan dan jarak antar orang-shaf-barisan pada setiap kesempatan ber-manuver, buka-tutup-formasi, hingga pada gerakan diam sekalipun. Memberi efek yang sungguh besar pada masing-masing individu yang terhimpun pada barisan. Diantaranya adalah kepekaan; kepekaan antar jarak, posisi, penempatan diri, terlalu jauh atau terlalu dekat, pas atau belum, penempatan waktu (timing) yang pas dan sense of places menjadi hal-hal yang melekat pada diri dan saling terkait secara otomatis antara pribadi satu dengan yang lainnya.

IMG_0874[1]

Masih banyak kebermanfaatan dari meluruskan dan merapatkan ini. Mungkin pada kesempatan lainnya kita akan bahas salah dua, salah tiga dan seterusnya. Semoga pada setiap kesempatannya kita selalu dapat meluruskan dan merapatkan, dalam rangka membersamai shalat berjamaah, memaui serta menjadikannya sebagai milik bersama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s