Serajin Apa Kita Berlatih Menemukan Jalan Lain

meski itu hanya mengubah bentuk dari apa yang kita makan sehari semisal nasi menjadi bubur, nasi menjadi lontong, nasi menjadi ketupat, hingga kita jangan sampai buntu dengan hanya sekadar melihat nasi hanya sebagai nasi

Judul ini saya samakan persis dengan judul majalah Tarbawi yang belum lama terbit. Begitu membaca judul ini, saya langsung merenung, meresapi makna dari kata-katanya yang begitu mengena, begitu terasa pas dengan suasana. Siapapun kita sebagai manusia, rasa-rasanya tak pernah lepas dari kebuntuan jalan yang harus kita tempuh, tak pernah lepas dari kejenuhan jalan yang harus kita jalani, sebab itu kita harus selalu rajin berlatih menemukan jalan lain pada berbagai jalan yang kita tempuh.

Perkara kita telah begitu amat baik pada setiap jalannya, selama jalan itu jalan takwa, jalan penuh kebermanfaatan, jalan yang pada jalurnya (on the track). “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Seluruh perkaranya baik baginya. Tidak ada hal seperti ini kecuali hanya pada orang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan lantas dia bersyukur, maka hal itu baik baginya. Dan jika dia ditimpa kesulitan lantas dia bersabar, maka hal itu baik baginya.” (HR. Muslim)

Hanya saja, khawatir dan gelisah kerap saja selalu melingkupi rasa, yang begitu menguji sabar dan rasa syukur diri. Pun ketakutan dan kecemasan, yang jika mampu diolah dengan baik justru akan memberi keseimbangan pada berbagai harap yang kerap kita garap.

Menemukan jalan, tentu saja harus dengan berjalan, tidak mungkin hanya diam. Menemukan jalan mungkin saja tidak pernah sederhana, tetapi berjalan harus selalu sederhana — tidak terlalu cepat, tidak terlampau lamban. Jika memang harus bersegera, menyegerakan mengubur jenazah dan membayar hutanglah yang harus dilakukan dengan terburu-buru.

Menemukan jalan menjadi sebuah seni dari kehidupan yang harus diemban pada masing-masing orang. Berarti sama, bahwa pembaharuan harus selalu kita cipta pada ruang yang membentang, pada waktu yang terentang. Sedikit berbeda dengan menempuh jalan yang juga masih sama, harus selalu ada variasi kita isi dari hari-hari yang kita jalani, dengan aksi-aksi penuh visi misi yang tertuang pada kekayaan narasi. Agar kelak pada berbagai generasi dapat saling menginspirasi — meski itu hanya mengubah bentuk dari apa yang kita makan sehari semisal nasi menjadi bubur, nasi menjadi lontong, nasi menjadi ketupat, hingga kita jangan sampai buntu dengan hanya sekadar melihat nasi hanya sebagai nasi. Wallahu a’lam bis shawab

Saya pribadi masih sedikit mampu untuk bervariasi dari jalur bersepeda yang saya tempuh (hampir) setiap pagi. Semoga sedikit banyak dari sapa pagi ini ada yang dapat dibagi. Mari sama-sama berlatih! 😀

IMG_1705[1]

IMG_1742[1]

IMG_1753[1]

IMG_1755[1]

IMG_1763[1]

IMG_1768[1]

IMG_1775[1]

IMG_1786[1]

IMG_1800[1]

IMG_1818[1]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s