Belajar Jadi Manusia

Belajar jadi manusia. Susah, susah, gampang

Belajar jadi manusia itu: susah, susah, gampang atau gampang, gampang, susah? Hehehe, kalau mengingat apa yang disampaikan Allah pada surah Al Inshirah ayat 5-6: Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (5), sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (6). Kurang lebih atau lebih kurangnya, adalah gampang, gampang, susah. Hanya saja karena fitrahnya perkara susahnya selalu saja di awal, keliatannya susah melulu yang terus tampak dari setiap permasalahan yang hadir. Oleh karena itu perlunya mengingat bahwa susah  atau sulit itu hanyalah himpitan dari dua kemudahan rasa-rasanya menjadi pengingat atas keputusasaan diri.

IMG_1224[1]

Belajar jadi manusia, belajar untuk terus berubah

Belajar jadi manusia, berarti belajar untuk mau berubah, terus-menerus, berkelanjutan dan sepanjang hayat, dengan sejenak beristirahat dalam rentang-rentang sempat. Tentunya yang namanya perubahan itu adalah hal yang paling konstan dari segala hal yang ada, tentunya juga ketersediaan waktu untuk mengubah atau jadi objek perubahan itu sendiri adalah benar-benar sedikit, secuil! Karena perubahan adalah perkara yang tidak bisa dihindari, sudah selayaknya perubahan diri harus benar sesuai arah, agar nantinya hasilnya menjadi indah, tanpa perlu gelisah. Ditambah bahwa tiap diri ini harus tahu kadar pada masing-masing tempat, kapan harus takut kapan harus berharap, kapan harus diam kapan harus bicara, kapan harus menulis kapan harus membaca, kapan harus mendekat kapan harus menjauh. Jadi hidup ini penuh dengan seni, seni menyeimbangan pada perubahan-perubahan yang hadir pada rangkaian peristiwa dari kumpulan kisah-kisah.

IMG_1237[1]

Belajar jadi manusia, belajar menghadapi krisis

Manusia, baik individu, maupun sebagai komunitas tidak pernah terlepas dari yang namanya krisis. Krisis dalam bahasa Cina, diucapkan dengan wei-ji dan dan mempunyai dua arti, yaitu ”bahaya” dan “peluang”. Jadi, mengelola krisis pun menjadi sebuah seni tersendiri lagi, sebagai ajang berlatih bagi masing-masing diri — dan penyeimbangan sekali lagi menjadi kemampuan yang tidak bisa ditinggalkan dari ajang ini. Setiap orang meski serupa, selalu saja ada beda, dalam menanggapi sebuah peristiwa dari setiap wacana pun sebaliknya. Panik, diam, geram, termenung, bingung, bimbang, marah, senang, takut, berharap, tenang, atau malah berkunang-kunang. Ya, sekali lagi itu semua reaksi pilihan, semuanya pasti mengarah pada keberpihakan, yang mengiringi pula kewajiban dan hak untuk ditunaikan, dan ujung-ujungnya adalah penilaian yang memiliki konsekuensi dari berbagai eksekusi penuh visi misi.

IMG_1222[1]

Belajar jadi manusia, belajar literasi

Manusia, dari awal bermula, akal menjadi pembeda, rasa menjadi penggerak. Pada berbagai kisah, telah banyak disampaikan narasi keberpahaman. Sebelum penciptaan manusia, malaikat belum paham kenapa manusia diciptakan (yang dituangkan pada QS Al-Baqarah (2): 30) , sehingga mereka bertanya:

“Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami  bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?”

Tapi Allah lebih paham, tentang ciptaan-Nya. Sehingga dijawablah pertanyaan malaikat tersebut:

“Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Pembelajaran keberpahaman masih terus berlanjut pada rangkaian kisah kemanusiaan. Di lain masa dan tempat, Musa pernah belum paham terhadap Hidir, sehingga dia mempertanyakan: Perahu yang dirusak, anak yang dibunuh, dan tembok yang dibetulkan tanpa diberi upah.

Tapi Hidir terlebih dulu paham atas kehendak Allah. Sebab Allah memberi paham kepada Hidir jauh sebelum Musa bertemu Hidir. Dari peristiwa ini, pemahaman Musa bertambah, meningkat dari belum paham menjadi paham, dan dari paham menjadi lebih paham. Paham yang tidak sekadar paham, tapi paham yang menjadi aksi. Dari keberpahaman yang bertambah ini Musa berdoa kepada Allah:

“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengannya kekuatanku, dan jadikankanlah dia sekutu dalam urusanku, agar kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. sesungguhnya Engkau adalah Maha melihat (keadaan) kami.” (QS. Thaahaa (20): 25-35)

Dari kisah ini juga kita belajar untuk segera cepat paham. Sebab sebagaimana kita tahu, Fir’aun enggan paham atas atas penghambaan diri, Fir’aun rasa-rasanya lebih paham untuk mengikuti hawa nafsu saja dalam menuhankan diri. Sampai ajal menyambut, hingga seluruh pasukannya terhambat diantara belahan laut, hingga kepahamannya menjadi terlambat.

Sepertinya, masing-masing dari kita pun menjalani kisah ketidakpahaman dalam bentuk variatif nan berbeda. Saya pribadi (juga) pernah (atau mungkin sedang?) mengalami ketidakpahaman tersebut, apakah bermula dari salah paham yang menjadikan beda paham. Atau diri ini yang enggan untuk memaui paham. Maka terus belajar adalah proses menuju paham tersebut, hemat diri ini.

Di dunia narasi ini, berpikir lagi (think again) atas bagaimana diri memberi alasan dan berargumentasi menjadi kebutuhan dari kemampuan yang mau tidak mau, yang sedikit banyaknya atau banyak sedikitnya harus kita kuasai — alih-alih mutlak. Karena pada akhirnya, kita sebagai perantara, memiliki andil untuk menyampai informasi yang membentuk persepsi hingga menjadi bagian dari persepsi tersebut (dan jangan juga terjebak dari imajinasi-imajinasi mimpi yang bertransisi dari sebuah film fiksi berjudul insepsi, inception maksudnya)

Sebagai perantara perlu juga rasa-rasanya agak sedikit santai, mungkin kalau sedang berdiri bisa duduk dulu, mungkin kalau duduk bisa berbaring dulu, mungkin kalau sedang berbaring bisa tidur dulu. Jadi ketika bangun nanti, badan sudah segar, pikir telah jernih dan segalanya sudah bisa lebih adem. Jadi dalam posisi siapapun kita, imam atau ma’mum, pengingat atau yang diingatkan, penyampai atau penerima selalu tetap dalam koridor-koridor yang baik dan membaikkan. Aamiin Ya, tapi ini hemat saya, persepsi yang terbentuk dari berbagai literasi hidup berhari-hari, dapat informasi dan membaca dari sana-sini, dan tak terlepas dari salah diri yang selalu berharap dapat berbagi kebaikan untuk terus diberi.

…Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nafkahkan perbehendaraan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, takkan bisa kau himpunkan hati mereka. Tetapi Allah-lah yang telah menyatupadukan mereka…” (QS Al-Anfaal (8): 63)

IMG_1265[1]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s