Startup: Menangkap Ide!

Bergerak itu mutlak diperlukan, fitrahnya air bergeraklah yang akan selalu memberi manfaat, dan air menggenanglah yang justru memberi mudharat. Dalam keberlanjutan hari-hari yang harus kita jalani, ada  ruang kewajiban yang harus menerus kita syukuri. Agar diri ini tidak menjadi objek yang dimaksudkan Allah sebagai orang yang justru sangsi nan ingkar dari segala nikmat-Nya: Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman (55): 13).

IMG_1224[1]

Memulai dan melanjutkan adalah hal yang berbeda, keduanya sama-sama baik, tapi selalu ada kesempatan partisipatif diri untuk mau berada di posisi yang mana dari keduanya. Tapi bukan berarti menipu diri dengan berpikir: “Saya lebih baik dari si fulan!”. Sebab bukankah setan menjadi musuh yang nyata karena kejumawaannya dan keengganan dirinya untuk bersujud kepada ayah kita? Adam.

Mengikuti public event kemarin malam: Startup Ideation, menjadi salah satu momen pengingat saya untuk mengingat dan menyusun kembali impian serta ide  yang sudah lumayan lama berserakan  tak tersentuh di pojok-pojok pikir diri ini, setidaknya dengan menghadiri acara ini, kini saya mulai kembali untuk membenahi ide-ide teronggok tersebut. Serunya dari acara kemarin malam adalah salah satu  pengisi acaranya seorang blogger yang sudah lama saya follow posting-an blog-nya, yang selalu update setiap hari dengan berbagai ide-ide segar nan khas, beliau adalah Pak Budi Rahardjo — yang jika mengutip dari halaman tentang di blog-nya beliau adalah  seorang technopreneur (dengan beberapa start-up companies), dosen Teknik Elektro ITB, penulis artikel IT (di majalah InfoLinux, dll.) pembicara untuk berbagai hal yang berhubungan dengan IT, konsultan information security, pemain musik, dan seorang manusia biasa — yang menurut saya sendiri beliau adalah seseorang yang luar dari biasa dengan segala pikir-pikir segarnya.

IMG_1204[1]

Tema dari acara yang diadakan dari ba’da maghrib hingga pukul 21.00 malam ini, menghadirkan pembicara dan panelis-panelis yang bergerak di dunia startup dari multi-bidang, lintas-generasi, dan lintas-talenta. Tak ayal, pengunjung dikompor-kompori untuk bersegera memulai dan mewujudkan startup-nya sesuai passion dan kesempatan yang terhampar di Indonesia. Banyak ajakan, himbauan, teguran, pesan dan petuah-petuah yang dibagi di sesi ini terutama berkaitan dengan bagaimana menangkap ide.

Ide — seperti yang telah sering kita dengar dan tahu, tapi tetap saja sulit untuk berjodoh dengan ide yang tepat — menjadi trend yang dibicarakan dari diskusi-diskusi ciamik kemarin malam. Ide itu harus ditangkap! bagaimana menangkapnya? Yang harus mau kita lakukan pertama kali adalah dengan memaui untuk mampu melihat dan membaca, ide itu sebenarnya ada di sekitar kita, bisa dekat atau jauh, baik sedikit atau banyak. Hanya saja yang selalu menjadi kendala, kita tidak pernah fokus dan meyakini bahwa kita dikelilingi oleh ide-ide yang begitu tersebar ruah. Setelah kita mau untuk fokus, maka ide-ide akan menampakan dirinya, dan kita hanya perlu menangkapnya! Ya, sesederhana itu.

IMG_1211[1]

Ide bisa jadi merupakan solusi bagi permasalahan, tapi solusi pun ada yang cocok dan tidak cocok. Layaknya penyakit, ada obat yang hanya menghilangkan nyeri sesaat dan ada yang merontokkan penyakit tersebut selamanya. Oleh karena itu, idepun harus dikondisikan dengan kebudayaan lokal yang ada, dengan permasalahan atau penyakit yang sesungguhnya. Bukan hurt-nya tapi pain-nya yang harus disembuhkan.

Sekadar idepun juga belum berarti apa-apa, karena jika tidak dieksekusi maka tidak akan ada wujud nyata yang dihasilkan, sebab wujud nyata dari nilai yang akan memberi manfaat! Bahkan bisa saja dua orang yang memiliki ide yang hampir sangat persis alih-alih sama bagai pinang dibelah dua, tapi hasilnya (result)sangat jauh berbeda, bagai bumi dan langit. Ketika kita memulai sebuah ide, yang terpenting harus dipikirkan adalah bagaimana untuk menyelesaikannya sebagai sebuah produk nyata bernama: manfaat.

IMG_1213[1]

Lalu bagaimana caranya menangkap ide? dimulai darimana? Sebetulnya ada cara sederhana lagi dimana kita bisa memulai membaca, menangkap dan memulai ide tersebut. Yakni, membaca dari apa yang tampak di depan mata, di sekitar kita, dan dari diri kita. Sebab dari perintah membaca (iqra) pada surah Al-Alaq ayat pertamalah kita diperintahkan lagi — untuk mau mengulang — membaca pada ayat ketiganya, agar kelak kita mendapatkan Al-Akram. Dari sini kita mungkin dapat belajar bahwa apa-apa yang sudah pernah kita baca, apa-apa yang sering kita lihat, jalanan yang sering  kita lewati, keluarga dan teman yang sering kita jumpa. Akan selalu saja ada, banyak ide hingga pemahaman yang meningkat dari yang sepertinya biasa — karena rutinitas dan tak ayak tidak pernah kita perhatikan — tapi ternyata sungguh menyimpan luar biasa yang alih-alih tak  pernah disangka apalagi diterka. Wallahu a’lam bis shawab.

IMG_1223[1]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s