Paskibraka Bersyukur: Tribute to Husein Mutahar

Menjadi Seorang Paskibraka

Tak terasa sudah hampir 5 tahun menjadi seorang Paskibraka. Tahun 2007 menjadi salah satu rangkaian momen hidup, menjalani serangkaian peristiwa panjang, turut serta sebagai bagian dari putra/i yang memilih dan dipilih menjadi pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka). Menjadi bagian dari keberlanjutan sejarah kemerdekaan merupakan kesempatan yang cukup jarang — kalau boleh dibilang langka. Menjadi seorang paskibraka pun mungkin salah satu diantaranya.

Sabtu (26/01/2013) kemarin merupakan salah satu ajang temu terbesar dalam kegiatan yang diselenggarakan Purna Paskibraka Indonesia (PPI) yang berjudul: Paskibraka Bersyukur “Tribute to Husein Mutahar”. Acara yang diadakan di auditorium Sasono Langgen Bodoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta ini merupakan Pagelaran Gerak dan Lagu Mengenang Jejak Langkah Perjuangan Husein Mutahar. Belum banyak generasi muda Indonesia saat ini yang mengetahui atau mengenal beliau — meski apa yang diperjuangkannya memiliki nilai-nilai kepahlawanan yang cukup tinggi.

Melalui acara inilah — yang juga merupakan reuni Paskibraka se-Indonesia lintas angkatan dan provinsi — perjuangan ka Mut (panggilan untuk Husein Mutahar) kembali dihadirkan ditengah-tengah para Purna Paskibraka Indonesia melalui pemutaran video dokumenter serta rentetan foto peristiwa dalam sebuah karya pagelaran yang dikemas dengan apik.

IMG_1096[1]

Sinopsis Pagelaran oleh Budharjo “masbeh”Winarno

Penjajahan di bumi Indonesia oleh bangsa asing masih belum berakhir. Gerakan para pejuang yang dimotori oleh para pemuda telah berhasil mengikrarkan “Sumpah Pemuda”. Hal ini semakin menggelorakan semangat untuk menggapai Kemerdekaan Indonesia.

Tahun 1943 seorang pemuda yang aktif dalam kegiatan Pandu jiwanya tergerak untuk segera mewujudkan kemerdekaan negaranya. Keinginan hatinya terus bergolak dan dengan bakat seninya kemudian disalurkan dengan menulis lagu. Dari keyakinannya hati bahwa kemerdekaan Indonesia akan segera lahir maka menarilah jemarinya menggoreskan pensil, melukiskan goresan harapan akan kemerdekaan negaranya. Dalam bimbingan empunya hidup Sang Pujangga Sejati, pada 7 September 1944 selesai menjadi sebuah lagu untuk mempersiapkan dan menyambut Kemerdekaan Indonesia.

Lagu yang sarat makna itu sangat menyentuh kalbu, karena dipersembahkannya bagi Sang Khalik. Lagu bertempo maestopo atau majestic, agung, hikmat, berirama pelan, mengalir dengan penuh kelembutan tetapi mengandung kemegahan dan semangat menggelora untuk meraih sebuah cita yaitu kemerdekaan Indonesia.

IMG_1109[1]

Lagu tersebut diciptakan dengan satu harapan kelak pada saat Indonesia merdeka, anak bangsa akan selalu ingat bahwa kemerdekaan itu adalah sebuah anugerah dari Tuhan sebagai buah perjuangan para pahlawan. Karena itu, sudah sepantasnya kita selalu bersyukur kepada-Nya. Maka lagu itu diberi judul Syukur. Pemuda yang menciptakannya tiada lain adalah Husein Mutahar.

Suasana keprihatinan kala itu digambarkan dengan sangat pilu di lagu Kulihat Ibu Pertiwi yang berkumandang merdu melalui suara anak kecil. Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati airmatanya berlinag, mas intannya terkenang. Semangat untuk mempersiapkan kemerdekaan juga menghinggapi para pemimpin dan keluarganya. Ibu Fatmawati Soekarno yang sedang hamil tua, dengan menggunakan mesit jahit yang digerakan dengan tangan, menjahit sebuah bendera Merah Putih dengan ukuran yang sangat besar.

Bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki menjadi titik balik kekalahan tentara Jepang dari pasukan Sekutu. Pada akhirnya dengan penuh tekad dan semangat, pada tanggal 17 Agustus 1945, atas nama bangsa Indonesia maka Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta membacakan proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Bendera Merah Putih yang dijahit Ibu Fatmawati untuk pertama kali secara resmi berkibar dengan megahnya, dan menggelorakan semangat kemerdekaan bangsa Indonesia.

IMG_1118[1]

Karena aksi teror yang dilakukan Belanda semakin hari semakin meningkat, maka 3 Januari 1946 Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarga dan staf pemerintahan dengan menggunakan kereta api bergerak menembus kegelapan malam meninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta.

Ketika tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta, Bung Karno dan Bung Hatta disambut oleh Raja Nyayogyakartahadiningrat yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Karena lebih mementingkan urusan negara maka Bung Hatta sampai sejenak melupakan istrinya yaitu Ibu Rahmi yang masih duduk di dalam kereta api. Hal ini kemudian dilukiskan oleh Ismail Marzuki daslam lagu Sepasang Mata Bola. Lagu yang menggambarkan perasaan tulus penuh kasih sayang ibu Rahmi kepada suaminya yang berjuang untuk negaranya.

Tahun 1946, menjelang Peringatan Proklamasi Kemerdekaan ke 2, Presiden Soekarno memanggil Husein Mutahar dan memberikan perintah untuk mempersiapkan upacara kenegaraan. Maka Mutahar memilih 5 orang sebagai lambang Pancasila utnuk mengibarkan Bendera Merah Putih, dan hal inilah yang menjadi cikal bakal terbentuknya Paskibraka. Sukacita seluruh rakyat diseluruh negeri digambarkan dengan indah untuk merayakan kemerdekaan itu.

IMG_1122[1]

Belanda masih terus melakukan teror dan puncaknya dengan Agresi Militer II, mereka mengepung Gedung Agung di Yogyakarta yang menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia. Bung Karno selaku Presiden RI memerintahkan H. Mutahar, bagaimanapun caranya, untuk  menyelamatkan Bendera Pusaka. Inilah nilai perjuangan dan kepahlawanan seorang Husein Mutahar yang dengan kecerdikannya, kemudian memisahkan Bendera Pusaka sehingga hanya menjadi dua carik kain merah dasn dan putih. Perjuangan untuk menyelamatkan Bendera Pusaka dengan mempertaruhkan nyawa digambarkan saat bendera diserahkan kembali kepada Bung Karno.

Saat Husein Mutahar diangkat sebagi Dirjen Udaka, maka dibentuklah Paskibraka, yang anggotanya terdiri dari pemudah dari seluruh tanah air Indonesia. Suasana pembinaan dan pelatihan di Desa Bahagia dipaparkan dalam gerak nan dinamis.

Rangkaian pagelaran ditutup dengan penyerahan bendera merah putih, yang harus terus dikibarkan diseluruh pelosok negeri dan penjuru bumi, demi kejayaan Indonesia.

IMG_1078[1]

Memberlanjutkan Perjuangan

Siapapun kita kini, segala hal yang telah terjadi dan belum terjadi merupakan rangkaian ketentuan peristiwa. Memaknai kekinian memerlukan kebijaksanaan hikmah masa lalu dan pembelajaran menerus atas perencanaan masa depan. Siapapun kita kemarin, hari ini harus menjadikan diri kita terus lebih baik dengan memperbaiki diri atas segala pikir dan tindak. Siapapun kita nanti, bercitalah untuk menjadi bagian dari sejarah masa depan yang meneladani. Aamiin.

Advertisements

One response to “Paskibraka Bersyukur: Tribute to Husein Mutahar

  1. Pingback: Lap 1/12, 4/54, 31/365 | dediwiyanto·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s