Kerjakan Dulu, Perbaiki Nanti. Kuantitas Dulu, Kualitas Menanti.

Allah berfirman, “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran(3): 159)

Kerjakan dulu, perbaiki nanti. Kuantitas dulu, kualitas menanti.

Awalnya kedua baris kalimat judul itu yang ingin saya angkat secara menggebu sebagai posting-an harian (post-a-day) kali ini. Tapi begitu ingin dikembangkan, saya seperti kehabisan kata-kata dari sekian kosakata yang tak pernah seumur-umur saya pinta apalagi sampai meminta-minta untuk dapat sekadar dirangkai agar makna dapat tercipta. Punya tema tapi tak tahu bagaimana harus ditempa, malah menjadi dilema…

Hmm, akhirnya kembali memaksa diri untuk mau sedikit menguras otak, agar dapat menghentak, atas pikir-pikir yang masih berserak, agar dapat menjadi uraian kata yang serempak bergerak di atas pijak-pijak tombol pada papan ketik yang tak sanggup bergerak — yang kalau saja bisa, dia ini pasti memilih untuk berteriak. Ah, tak pelak harus menulis dengan sadar atas tindak.

Memulai dan mewujudkan adalah proses berkelanjutan dari sebuah tujuan. Rancang bangun atas visi melalui misi yang berpenuh daya imajinasi dari sebuah mimpi. Ah, semoga saja ini bukan semangat basa-basi dari diri yang hanya sedikit berisi . Meski begitu, memulai bukan menjadi sesuatu yang hanya sekadar, selalu ada ruang salah tercipta bersamaan dengan prosesnya yang tak pernah kelar. Dari awal hingga akhir, oleh siapapun melalui apapun. Selain mengerjakan, memperbaiki menjadi sebuah evaluasi yang juga harus terintegrasi, mengiringi: mengawali dan mengakhiri.

Mengerjakan sekali, perbaiki sekali, masih kurang. Mengerjakan dua-kali, perbaiki dua-kali, masih juga kurang. Tiga atau empat kali? masih kurang juga. Sepuluh-lima belas kali? masih juga kurang. Sepertinya lelah pun datang, menjadi gelisah yang memberi keluh kesah. Hingga resah mendominasi menjadi gundah — atau menjadi apapun itu yang samasekali tidak terasa indah — ah, hampir-hampir saja terucap kata menyerah. Tapi, tetap harus ada yang menjadi syukur agar kelak menjadi kisah, karena langit belum terbelah, karena bumi masih hijau dan indah, karena masih ada teman yang hadir berbagi senyum merekah.

Memulai apapun menjadi sebuah perjalanan panjang penuh aral melintang, bimbang menjadi penghalang, malas menjadi karang yang membentang. Awal-awalnya sih : seru dan menantang! Tapi semakin lama menjadi bosan yang menghadang. Untuk itu niat awal harus terus dikenang, jangan hanya menjadi awang-awang, tapi harus terngiang-ngiang. Agar kelak menjadi bintang yang sedikit terang di tengah-tengah langit luas yang membentang.

Allah berfirman, “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran(3): 159)

AS_88

Advertisements

One response to “Kerjakan Dulu, Perbaiki Nanti. Kuantitas Dulu, Kualitas Menanti.

  1. Pingback: Lap 1/12, 4/54, 31/365 | dediwiyanto·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s