Belajar Menyederhanakan Berjalan

Dan sederhanakanlah dalam berjalan (650) dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya, seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (QS. Lukman (31): 19)

Entah kenapa saya agak menaruh banyak perhatian dengan cara berjalan: entah cara berjalan sendiri — atau juga orang lain — terkadang saya juga yakin  orang lain juga berpendapat begitu ke saya, hehe. Setelah saya pikir dan tanya ke orang lain, ternyata cara berjalan saya ini bisa dibilang cukup lambat, apalagi kalau udah kebawa mood yang kurang mengenakan, makin menyiputlah kaki ini menyeret, eh melangkah.

Dulu, saya pernah melihat sebuah acara penelitian tentang cara berjalan seseorang, dan ternyata setiap orang itu punya jalan yang berbeda satu-sama lainnya! Jadi bisa dibilang cara berjalan kita itu bisa jadi kayak sidik jari gitu, berbeda satu-sama-lain, unik. Mungkin dari sini, saya begitu menaruh perhatian pada cara berjalan orang-orang.

Sempat juga saya membaca tentang literasi (kalau nggak salah dari sebuah novel) yang menjelaskan cara berjalan rata-rata orang-orang di kawasan bermusim dingin  dan kawasan di daerah khatulistiwa (baca: tropis). Orang-orang yang tinggal di kawasan yang bermusim dingin atau salju, selama musim itu mereka berjalan lebih cepat, dalam rangka supaya cepat sampai tujuan dan menjaga kondisi badan tetap hangat. Nah, kalau orang-orang di kawasan khatulistiwa lebih menikmati berjalan ketika bepergian, karena sambil menikmati suasana yang hampir selalu hangat sepanjang tahun.

Nah, dari perbedaan musim ini aja, bisa mempengaruhi cara berjalan rata-rata penduduk suatu bangsa, yang berpengaruh pada kebiasaan mereka untuk berjalan sampai bertindak hal-hal yang lainnya. Dari sinilah kita bisa tahu kenapa orang-orang yang tinggal di kawasan bermusim salju, rata-rata orangnya cekatan dan cepat. Sedangkan, orang-orang yang tinggal di kawasan bermusim hangat, rata-rata orangnya lebih santai — termasuk saya, hehe.

Meski begitu, pendapat-pendapat di atas bukan berarti menyarankan untuk menerima situasi ya, soalnya kan segala bentuk upaya memperbaiki diri juga harus kita kerjakan. Apalagi kalau kita bisa membiasakan hal-hal yang baik. Awalnya sih  saya pikir diri ini agak lebay buat ngomongin cara berjalan. Eh, ternyata tentang cara berjalan ini juga nggak luput dari pembicaraan di Al-Qur’an yang terdapat pada surah Lukman (31) ayat ke 19:

“Dan sederhanakanlah dalam berjalan (650) dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya, seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (QS. Lukman (31): 19)

Penjelasan footnote (650): Ketika berjalan, janganlah terlampau cepat dan jangan pula terlalu lambat.

Lagi-lagi di marathon jarak ke-22 ini saya belajar, belajar untuk berjalan. Semoga bisa berjalan sedikit lebih cepat. Berhubung akhir-akhir ini saya juga diharuskan banyak berjalan.

AS_112

Advertisements

2 responses to “Belajar Menyederhanakan Berjalan

  1. Pingback: Lap 1/12, 4/54, 31/365 | dediwiyanto·

  2. Pingback: Serajin Apa Kita Berlatih Menemukan Jalan Lain | dediwiyanto·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s