Perantara Berbagi: Jauh Panggang Dari Api

Selalu saja ada yang membedakan satu dengan dua-puluh-tujuh, antara sendiri dan bersama. Meski selalu ada ruang untuk menyendiri, tapi juga selalu ada ruang untuk bersama. Sendiri dan bersama, miliki porsi sebuah aplikasi.”

Ada yang kita tahu, tapi entah kita terkadang enggan berbagi tahu. Padahal kitatahu, besar mungkin bahwa apa yang kita tahu bisa menjadi salah satu sebab orang lain untuk tahu. Padahal peranan diri tidak pernah terlepas dari menjadi perantara, apa mungkin tidak tahu kita lebih besar ketimbang tahu,   takut kita lebih besar ketimbang berani. Maka terkadang kita jadi lebih miskin substansi ketika enggan memberi, dari hanya sekadar paham atau tahu yang menjadi privasi.

Kita juga sering minder karena jarang cukup untuk berbagi materi, meski begitu selalu ada yang ingin diberi: hati yang ada untuk dibagi. Membagi hati melalui kata haruslah menjadi misi. Membagi hati melalu rasa haruslah menjadi visi. Membagi hati untuk dunia, harus dimulai dari diri sendiri. Meski materi tidak pernah mencukupi, selalu ada hati yang bisa dibagi.

Menjalani apapun seorang diri, rasa-rasanya tidak melajukan kebersamaan. Karena sendiri dan bersama selalu berbeda. Selalu saja ada yang membedakan satu dengan dua-puluh-tujuh, antara sendiri dan bersama. Meski selalu ada ruang untuk menyendiri, tapi juga selalu ada ruang untuk bersama. Sendiri dan bersama, miliki porsi sebuah aplikasi.

Dalam sejarah panjang manusia. Kisah panjang al-anbiya terawal hingga terakhir, selalu miliki ruang bersama. Selalu ada ruang penyampaian yang tidak bisa dikerjakan sendiri. Selalu ada harap seorang kawan yang tidak ingin sendiri dalam berbagi visi serta melaksana misi. Nabi pilihan: Musa, tidak juga terlepas akan kebutuhan bersama, kebutuhan untuk tidak sendiri, kebutuhan untuk berbagi:

“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengannya kekuatanku, dan jadikankanlah dia sekutu dalam urusanku, agar kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. sesungguhnya Engkau adalah Maha melihat (keadaan) kami.” (QS. Thaahaa (20): 25-35)

Menyampaikan, juga menjadi hal yang mendapat perhatian khusus dari seorang Rasulullah, karena tak jarang yang mendapat informasi justru tidak paham dan yang tidak mendapati informasi bisa jadi lebih paham:

“Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena berapa banyak orang yang disampaikan, dia lebih faham dari orang yang menyampaikan.” (HR Ahmad)

Sedari kita tahu, masihkan kita ingin menyimpan paham seorang diri? Enggan menjadi perantara untuk berbagi penyampaian? Menjadi manusia berutinitas biasa menjalani angan panjang berdalih mimpi, terjebak pada apa-apa yang kita rasa tahu, padahal jauh panggang dari api.  Wallahu a’lam.

AS_1011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s