Memaknai Kebersamaan (2) : Bukan Sekadar Momen

Tulisan ini lebih kepada lanjutan tulisan: memaknai kebersamaan. Melanjuti kisah 5 orang teman kita ini (Alpha, Beta, Charlie, Delta dan Epsilon) tentang jumpa mereka yang justru menjadi hampa, saya sedikit banyak merenung, itu bisa terjadi pada siapa saja di tiap celah peristiwa yang kita lalui.

Kita, dalam sebuah komunitas, dalam sebuah kelompok, dalam sebuah jamaah, dalam sebuah himpunan, dalam sebuah kekolektifan, dalam sebuah hal yang jumlahnya lebih dari seorang. Niscaya disebut bersama, tapi urusan bermakna dan membersamai ini urusan yang berbeda.

Lagi-lagi saya (rasanya) membesarkan hal yang harusnya cukup jadi perkara biasa, tidak perlu dikata-kata. Tapi saya sendiri tidak suka diam yang justru jadi prasangka. Atau diam yang disalahartikan makna. Apalagi menjadi diam yang menjadi bahan bicara. Tapi saya — terlebih juga — tidak ingin menjadi orang bicara yang justru didiamkan saja.

Maka bukan diam atau bicaranya yang seharusnya kita utarakan. Kalau diam bisa tercipta paham. Kalau diam bisa bermakna. Dan kalau diam bisa menyampaikan. Maka tidak bicarapun tidak mengapa. Ketimbang bicara yang hanya menjadi sekadar. Itu lebih terasa seperti tenggelam, dan kelam. Inilah yang mungkin kenapa memberi salam adalah sunnah, dan membalas salam adalah suatu kewajiban. Lagi-lagi, kekasih Allah yang satu ini sangat tahu esensi seni berkomunikasi.

Buat apa kita terhubung pada banyak jejaring sosial, kalau yang (terkadang) justru terjadi hanya menjadi sekadar formalitas belaka?

…Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nafkahkan perbehendaraan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, takkan bisa kau himpunkan hati mereka. Tetapi Allah-lah yang telah menyatupadukan mereka…” (QS Al-Anfaal (8): 63)

Berbicara sosialita yang juga tak terlepas dari komunitas realita, kali ini mungkin bisa kita angkat tema tentang sebuah acara yang dapat saja menjadi retorika. Dalam sebuah hajat, ada dua pihak yang terlibat: Pertama, adalah penyelenggara. Kedua, adalah tamu yang diundang empunya acara. Sebuah hajat yang mengundang, pastinya karena itu adalah sebuah momen internal  yang ingin berbagi bahagia dan rasa senang. Nah, dari sini kita harusnya tahu hajat ini milik siapa? kebersamaan siapa?

Orang bisa merasa memiliki itu karena ada yang namanya keterlibatan, menjadi bagian dari mengenakan dan tidak mengenakannya. Pengundang dan terundang, tentu saja beda. Pengundang adalah pihak yang terlibat sepenuhnya dari risiko baik dan buruknya, dan terundang adalah pihak yang terlibat hanya pada hasil dan penampakan akhir dari sebuah proses. Kalau yang diusung adalah hajat internal yang notabenya sebuah kebersamaan. Maka jika hanya mengundang pihak dan agar yang diundang cukup merasakan bagian senang-senangnya saja. Mungkin perlu ditanya lagi: ini hajat siapa, dan untuk kebersamaan siapa?

Advertisements

One response to “Memaknai Kebersamaan (2) : Bukan Sekadar Momen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s