Jawaban Yang (Masih) Tertunda.

Memilih, dipilih, menjadi perkara susah, mudah, dan mudah. Meski terkadang kita harus menjalani apa yang kurang kita suka, selama itu baik adanya, rasa-rasanya menjalani hal tersebut harus dijalani penuh sukarela, setidaknya diawali berpenuh semangat rasa. Tentu saja bukan berarti diri mengubur potensi unik pemberian Sang Pencipta. Karena akan selalu  ada ruang-ruang membentang untuk menggiat sejumlah kata-kata, agar bertambah pikir ini, agar meluas jiwa ini. Maka bertumbuh adalah kebutuhan yang niscaya.

Menjadi manusia, rasa-rasanya mesti banyak bertanya, dengan tanya kualitas luar biasa. Melalui pikir yang mendalam, renungan yang panjang, hingga mungkin ada krisis yang mencekam. Kita harus hasilkan tanya yang tak biasa, dengan begitu  diri ini pun akan menjawab dengan bersih dan jujur menandakan dalamnya hati.

Ada hal yang ingin diutarakan, tapi terkadang kelu lidah ini, kaku bibir ini, takut salah kata terucap, takut pikir salah menangkap. Sebab tak bisa diri ini menyenangkan semua pihak, pada waktu yang serempak.

Manusia dengan kedinamisannya, mengakumulasikan pelajaran hidup dari saat-ke-saat. Mungkin dulu hal A terucap, bisa jadi B kini terbuat. Mungkin dulu tidak suka atas perihal yang ini, tapi yang ini kini harus dijalani. Mungkin tidak ada konsistensi, tapi lebih kepada adaptasi. Meski begitu, menumbuhkan diri adalah hal yang tidak bisa dipungkiri. Kerap begitu, apapun yang dijalani haruslah berada pada  koridor-koridor Ilahi.

Pada sebuah diskusi malam, kembali terentang atas pilihan yang membentang, mengharuskan kembali memilih atas perjalanan lintas waktu dan ruang. Hingga putus belum terambil dan jawaban tampak mengambang. Ah, lagi-lagi aku menjadi bimbang, seraya pikir menjadi lamunan yang terbang ke awang-awang.

Kawan, aku sebenarnya punya cita, cita yang sendiri aku bingung apa dan bagaimana untuk dicipta. Untuk Memulai dan Mewujudkan. Tapi aku sejenak terdiam, atas apa yang seharusnya kukata. Karena ada cita yang mungkin harus tertunda asalkan  jangan sampai terbuang. Meski tak ingin  rasanya  cita itu lama terpendam alih-alih terlupa.

Ada yang mengatakan, “Kerjakan saja dulu, perbaiki nanti”. Memang benar perjalanan hidup seperti itu adanya. Kita lebih dulu harus mengerjakan apa-apa yang bisa kita kerjakan pada lingkup terdekat dari apa yang kita punya. Tapi rasa-rasanya bimbang ini telah begitu lama mengiring langkah dalam rentang-rentang. Hingga kini, aku haruslah tegas pada diri, kini dan nanti. Sebab meski kesempatan melimpah dan terbentang. Ada batas waktu yang menjadi penghalang.

Hanya saja, aku tak ingin bermanis kata, mencipta harapan-harapan yang tidak nyata. Sehingga, ketika nanti ada sebuah masa yang harus memisah raga. Maka sekarang, aku berucap salam atas maaf dan terimakasih. Tapi itu nanti ya. Karena sekarang, aku masih termenung dalam bimbang.

Advertisements

3 responses to “Jawaban Yang (Masih) Tertunda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s